Meroket Lebih dari 20%, Harga Minyak Dunia Sentuh USD111/Barel

Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Freepik.

Meroket Lebih dari 20%, Harga Minyak Dunia Sentuh USD111/Barel

Husen Miftahudin • 9 March 2026 08:48

Houston: Harga minyak dunia melonjak lebih dari 20 persen pada perdagangan Senin pagi di Asia, karena meningkatnya perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran yang lebih besar tentang gangguan pasokan dalam beberapa bulan mendatang.

Mengutip Investing.com, Senin, 9 Maret 2026, harga minyak Brent berjangka sebagai patokan internasional untuk kontrak beli atau jual di masa depan, untuk pengiriman Mei 2026, melonjak lebih dari 20 persen pada perdagangan pagi ini ke level puncak hingga USD111,04 per barel, sebelum sedikit mereda dan diperdagangkan pada USD107,92 per barel.

Konflik AS-Israel dengan Iran meningkat selama akhir pekan setelah serangan udara menghantam fasilitas minyak Iran di Teheran dan provinsi Alborz, yang pertama sejak konflik dimulai pada awal Maret. Konflik tersebut memasuki hari kesepuluh berturut-turut pada Senin. 

Sebelumnya, Iran mulai menyerang kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran utama bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Gangguan di jalur tersebut telah menjadi sumber kekhawatiran utama bagi pasar minyak.

Presiden AS Donald Trump mengakui adanya kenaikan harga minyak. Ia lantas menyatakan harga minyak yang tinggi akan segera turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran berakhir.

"Ini adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia," tutur Trump.
 

Baca juga: Harga Minyak Mentah Brent Bakal Sentuh USD150/Barel


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Harga minyak sudah naik lebih dari 25% gegara perang AS-Iran


Harga minyak telah melonjak lebih dari 25 persen sejak dimulainya perang, menyebabkan kenaikan tajam harga bahan bakar di seluruh dunia. Iran juga terlihat menyerang infrastruktur minyak di negara-negara Timur Tengah sekitarnya. 

"Situasi ini bahkan melampaui skenario terburuk yang kami perkirakan sebelum serangan awal terhadap Iran oleh pasukan militer AS dan Israel. Kemungkinan kenaikan harga minyak lebih lanjut sangat tinggi," kata analis ANZ dalam sebuah catatan. 

Para produsen minyak utama di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait, telah mulai mengurangi produksi minyak karena cadangan penyimpanan menipis akibat gangguan pasokan yang meluas. 

Harga minyak tidak banyak terhibur oleh janji Trump tentang asuransi maritim dan potensi perlindungan angkatan laut untuk kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)