Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Carsurin.com
Harga Minyak Mentah Brent Bakal Sentuh USD150/Barel
Insi Nantika Jelita • 8 March 2026 15:42
Jakarta: Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut harga minyak dunia akan terus terkerek naik imbas penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang menyebabkan pasokan minyak global terganggu.
Menurut dia, harga minyak mentah (crude oil) berpotensi menyentuh level USD100 per barel. Sementara Brent crude oil, sebagai patokan harga minyak internasional berpeluang mencapai USD150 per barel.
Ibrahim menjelaskan, penutupan jalur strategis tersebut berdampak pada produksi minyak di kawasan Timur Tengah, sehingga sejumlah negara produsen mengurangi produksi mereka. Di sisi lain, AS disebut tengah mempertimbangkan untuk mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran agar aliran minyak mentah kembali normal di pasar global.
Kenaikan harga minyak mentah tersebut berpotensi memicu inflasi global. Inflasi akan mendorong kenaikan harga berbagai komoditas turunan, terutama pada sektor logistik, transportasi, dan konsumsi," jelas Ibrahim dalam keterangan resmi, Minggu, 8 Maret 2026.
| Baca juga: Prediksi Harga Emas Minggu Ini: Antam Diramal Tembus Rp3,15 Juta |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Tensi geopolitik berpotensi meningkat, AS bakal serang Kuba
Di tengah konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah, tensi geopolitik juga berpotensi meningkat setelah muncul kemungkinan AS melakukan penyerangan terhadap Kuba. Sebelumnya, Menteri Kuba disebut melakukan penembakan terhadap warga sipil Amerika yang memicu ketegangan baru. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian global dan kembali mendorong kenaikan harga emas.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump disebut tidak menginginkan harga minyak mentah melonjak tinggi. Dalam pidato awalnya sebagai Presiden, ia menargetkan harga minyak mentah rata-rata berada di level USD50 per barel. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah membuka kembali keran pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran agar pasokan minyak meningkat di pasar internasional.
Langkah tersebut juga berpotensi membuat minyak dari Rusia membanjiri pasar global sehingga harga menjadi lebih stabil. Namun demikian, stabilitas tersebut tetap bergantung pada kemampuan Rusia dalam memenuhi kuota produksi di tengah gangguan distribusi dari kawasan Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz sendiri memiliki dampak besar terhadap pasokan minyak global. Jalur tersebut merupakan rute utama pengiriman minyak dari negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait. Total pengiriman melalui jalur ini mencapai sekitar 140 juta barel, setara dengan sekitar 1,4 hari permintaan minyak global. Artinya, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Ibrahim berpandangan jika penutupan berlangsung dalam waktu lama, maka wajar apabila harga Brent crude oil dapat menembus USD150 per barel dan crude oil mencapai USD100 per barel.
"Kondisi tersebut pada akhirnya akan berdampak luas, termasuk pada sektor penerbangan dan transportasi udara yang sangat bergantung pada pasokan bahan bakar minyak," terang dia.