14 Proyek Awal PLTS 100 GW Butuh Investasi Rp135 Triliun

Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P. Hutajulu. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.

14 Proyek Awal PLTS 100 GW Butuh Investasi Rp135 Triliun

Ade Hapsari Lestarini • 3 September 2026 18:46

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut 14 proyek awal Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari program pengembangan PLTS berkapasitas 100 Gigawatt peak (GWp) membutuhkan investasi sekitar USD7,7 miliar atau setara Rp135 triliun.

Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P. Hutajulu mengatakan 14 proyek tersebut direncanakan mulai dikembangkan pada 2027.

"Jadi ada 14 proyek pertama dari 100 GW. Untuk 14 proyek ini kebutuhannya sekitar USD7,7 miliar atau sekitar Rp135 triliun," ujar Jisman dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Selain kebutuhan investasi, pengembangan 14 proyek awal tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 234 ribu tenaga kerja.

Sementara itu, secara keseluruhan program PLTS 100 GW diperkirakan dapat menghasilkan penghematan sekitar Rp74 triliun per tahun dan menciptakan hampir 5,5 juta lapangan kerja. Program tersebut juga diproyeksikan menurunkan emisi sekitar 140 juta ton CO2.

Pengembangan PLTS 100 GW akan dilakukan melalui sejumlah skema, mulai dari PLTS darat, PLTS atap (rooftop), hingga PLTS terapung.

Pemanfaatan energi surya juga diarahkan untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang sudah tua dan kurang efisien, terutama di wilayah dengan biaya penyediaan listrik tinggi serta daerah yang menghadapi kendala distribusi bahan bakar diesel.


Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
 

 

Transisi energi kurangi ketergantungan fosil


Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menilai percepatan transisi energi diperlukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Menurutnya, ketergantungan tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga membebani perekonomian nasional.

Sugeng mengatakan produksi minyak dalam negeri saat ini berada di kisaran 530 ribu barel per hari. Sementara itu, konsumsi energi terus meningkat sehingga kesenjangan antara produksi dan kebutuhan dalam negeri harus dipenuhi melalui impor.

Menurut dia, ketergantungan terhadap energi fosil juga berpengaruh terhadap beban subsidi dan kompensasi energi yang mencapai sekitar Rp400 triliun. Kebutuhan impor energi turut meningkatkan kebutuhan valuta asing sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Indonesia mau tidak mau harus mempercepat transisi energi menuju energi baru, energi terbarukan," kata Sugeng.

Ke depan, Sugeng mengatakan kelistrikan akan diarahkan menjadi tulang punggung energi nasional. Karena itu, elektrifikasi perlu diperluas ke berbagai sektor, mulai dari industri, transportasi, hingga rumah tangga.

"Backbone energi kita ke depan adalah kita arahkan ke listrik. Jadi nanti harus elektrifikasi di industri, elektrifikasi di transportasi, dan elektrifikasi di rumah tangga," ujar dia. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Ade Hapsari Lestarini)