Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan.
Biaya Energi Hijau Mahal, Pemerintah Kejar Komponen Panel Surya Lokal
Andika Fauzan Azhari • 3 September 2026 18:27
Jakarta: Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mendorong lokalisasi komponen panel surya untuk menekan biaya investasi energi hijau di dalam negeri. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok energi bersih sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan sekitar 87 persen bahan baku pembuatan panel surya, seperti silika, aluminium, dan timah, tersedia di Indonesia. Namun, pengembangan energi terbarukan masih menghadapi tantangan berupa tingginya harga energi bersih.
"Sekitar 55 sampai 60 persen komponen panel surya sudah bisa kita sediakan, tapi bahan utama seperti polysilicon, silicon ingot, dan wafer-nya yang masih kita dorong," ujar Todotua dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu (kanan) saat menjadi narasumber Sarasehan 100 Ekonom. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan.
Mendukung pengembangan PLTS
Menurut Todotua, kelengkapan rantai pasok domestik menjadi penting untuk mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan proyek transisi energi. Ketergantungan terhadap komponen impor dinilai dapat meningkatkan biaya pembangunan pembangkit energi bersih.
Jika rantai pasok dari hulu hingga hilir dapat dibangun di dalam negeri, biaya energi diharapkan menjadi lebih kompetitif, termasuk bagi sektor manufaktur.
"Variabel energi ini punya dampak besar ke biaya produksi industri. Kalau kita tidak masuk ke hilirisasi komponen pendukungnya, kita tidak bisa mengontrol biaya. Kaitannya dengan hilirisasi adalah bagaimana ekosistem rantai pasok green energy ini ada di sini, supaya harganya terjangkau dan industrinya bisa tumbuh," jelas Todotua.
Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan industri komponen energi terbarukan di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.
Penguatan rantai pasok tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan komponen lokal sekaligus mendukung pengembangan investasi energi terbarukan di Indonesia.