Peta Isoseismal, dok: BMKG
Mengenal Peta Isoseismal Gempa NTT dan Cara Membaca Intensitas Guncangannya
Putri Purnama Sari • 3 September 2026 20:40
Jakarta: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu. Guncangan gempa terasa di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda.
Beberapa daerah mengalami guncangan lebih kuat dibandingkan wilayah lainnya. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Manggarai dan Manggarai Barat menjadi wilayah yang tercatat mengalami intensitas guncangan tinggi.
Untuk menggambarkan sebaran guncangan tersebut, BMKG menggunakan peta isoseismal. Peta ini menunjukkan tingkat intensitas guncangan gempa di berbagai wilayah, mulai dari yang paling kuat hingga yang lebih rendah.
Selain memperlihatkan sebaran intensitas, peta isoseismal dapat memberikan gambaran mengenai hubungan pola guncangan dengan posisi episenter dan struktur tektonik di sekitar sumber gempa.
Lantas, bagaimana cara membaca peta isoseismal dan seperti apa sebaran guncangan Gempa Flores M7,7? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Peta Isoseismal?
Peta isoseismal merupakan peta yang menunjukkan tingkat intensitas guncangan gempa bumi di sejumlah wilayah. Intensitas tersebut menggunakan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) dan digambarkan melalui garis yang menghubungkan lokasi dengan tingkat guncangan yang relatif sama.
Peta isoseismal tidak menunjukkan kekuatan gempa berdasarkan magnitudo. Sebaliknya, peta ini menggambarkan seberapa kuat guncangan gempa dirasakan di suatu wilayah.
Informasi dalam peta isoseismal dapat digunakan untuk melihat pola dan jangkauan guncangan gempa secara spasial. Peta tersebut juga membantu mengidentifikasi wilayah dengan intensitas guncangan paling kuat hingga yang lebih rendah.
Selain itu, pola intensitas yang tergambar dapat dikaitkan dengan posisi episenter serta kondisi struktur tektonik di sekitar sumber gempa.
Baca Juga :
Pariwisata Labuan Bajo Kembali Normal Pascagempa
Fungsi Peta Isoseismal

Peta Isoseismal, dok: BMKG
Berikut beberapa keperluan penggunaan peta isoseismal:
- Mengetahui pola dan jangkauan guncangan gempa di berbagai wilayah.
- Mengidentifikasi wilayah dengan intensitas guncangan paling kuat hingga yang lebih lemah berdasarkan skala MMI.
- Melihat keterkaitan antara intensitas guncangan, posisi episenter, dan struktur tektonik di sekitar sumber gempa.
Peta Isoseismal Gempa Flores M7,7
Pada gempa bumi Flores berkekuatan M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, peta isoseismal BMKG memperlihatkan variasi intensitas guncangan di sejumlah wilayah.
Tingkat intensitas guncangan yang tercatat berada pada kisaran III hingga VII MMI. Intensitas lebih tinggi terutama terlihat di sejumlah wilayah Manggarai dan Manggarai Barat.
Pola intensitas tersebut juga menunjukkan keterkaitan secara spasial dengan posisi episenter dan struktur tektonik Flores Back-Arc Thrust. Sejumlah wilayah yang tercatat mengalami intensitas guncangan kuat antara lain:
- Manggarai Barat, termasuk Labuan Bajo, mengalami intensitas hingga VII MMI.
- Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka, termasuk Ruteng, Reo, Lambeledu, Mbay, Mbay II, dan Maumere, mengalami intensitas hingga VII MMI.
- Ende dan Ngada mengalami intensitas hingga VI MMI.
Perbedaan intensitas tersebut turut memberikan gambaran mengenai dampak guncangan yang dirasakan masyarakat di setiap wilayah. BMKG mencatat tingkat kerusakan yang berbeda berdasarkan intensitas gempa.
Pada intensitas VII MMI, kerusakan yang terjadi dapat berkisar dari ringan hingga berat, dengan kerusakan sedang menjadi kondisi yang dominan. Sementara itu, pada intensitas VI MMI, kerusakan relatif lebih sedikit dan terutama terjadi pada bangunan bertingkat.
Peta isoseismal membantu menggambarkan bagaimana guncangan gempa menyebar dari sumber gempa ke wilayah di sekitarnya. Secara umum, intensitas guncangan cenderung menurun seiring bertambahnya jarak dari sumber gempa, meskipun kondisi geologi dan struktur tektonik setempat juga dapat memengaruhi pola guncangan.
Melalui peta tersebut, masyarakat dapat melihat wilayah yang menerima guncangan lebih kuat sekaligus memahami hubungan antara intensitas gempa, posisi episenter, dan struktur tektonik di sekitar sumber gempa.
(Angel Rinella)