Wall Street Beragam, Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Wang Ying.

Wall Street Beragam, Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Husen Miftahudin • 2 May 2026 08:53

New York: Saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street berakhir beragam pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), dengan indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi menembus level 25 ribu untuk pertama kalinya berkat pendapatan teknologi yang kuat dan harapan akan terobosan di Timur Tengah.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 2 Mei 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 152,87 poin, atau 0,31 persen, menjadi 49.499,27. Indeks S&P 500 bertambah 21,11 poin, atau 0,29 persen, menjadi 7.230,12. Indeks Nasdaq Composite meningkat 222,13 poin, atau 0,89 persen, menjadi 25.114,44.

Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi dan industri memimpin penurunan dengan masing-masing kehilangan 1,31 persen dan 0,93 persen. Sementara itu, sektor teknologi dan barang konsumsi non-esensial memimpin kenaikan dengan masing-masing bertambah 1,41 persen dan 0,51 persen.

Pada penutupan perdagangan Jumat terjadi setelah April yang bersejarah bagi Wall Street. Indeks S&P 500 melonjak lebih dari 10 persen selama bulan tersebut, menandai kinerja terbaiknya sejak November 2020. Indeks Nasdaq Composite melonjak lebih dari 15 persen untuk bulan terbaiknya sejak April 2020.
 

Baca juga: Wall Street Tebar Cuan Berlimpah


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Ditopang meredanya ketegangan AS-Iran


Perkembangan geopolitik memberikan latar belakang yang mendukung bagi pasar saham seiring dengan penurunan harga minyak global. Pasar energi mengalami penurunan setelah adanya laporan Iran telah mengirimkan tanggapannya, melalui mediator Pakistan, kepada Amerika Serikat.

Di sisi korporasi, investor terus menavigasi musim pendapatan kuartal pertama yang terbukti sangat tangguh. Saham Apple naik lebih dari 3 persen pada hari Jumat setelah raksasa teknologi konsumen itu mengumumkan pendapatan kuartal keduanya. Prospek pendapatan perusahaan yang lebih baik dari perkiraan untuk kuartal ini menutupi fakta bahwa pendapatan iPhone kurang dari perkiraan untuk kedua kalinya dalam tiga kuartal.

Sementara itu, sektor energi menghadapi tantangan meskipun harga komoditas dasarnya tinggi. Perusahaan minyak raksasa AS, Exxon Mobil dan Chevron, sama-sama melampaui perkiraan laba triwulanan tetapi gagal memenuhi ekspektasi pendapatan.

Kegagalan mencapai target pendapatan tersebut menyoroti dampak nyata dari konflik regional, karena produksi yang terhambat di seluruh Timur Tengah dan pengiriman minyak yang tertunda akibat tertahan di Selat Hormuz sangat membebani penjualan energi secara keseluruhan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)