Tantangan Penulis di Era Digital: Menjaga Kecepatan Tanpa Mengorbankan Akurasi

Ilustrasi. Dok Metrotvnews.com

Tantangan Penulis di Era Digital: Menjaga Kecepatan Tanpa Mengorbankan Akurasi

Arga Sumantri • 1 September 2026 21:10

Jakarta: Kecepatan menjadi salah satu tuntutan dalam menulis di era digital. Namun, tuntutan menghasilkan tulisan dalam waktu singkat tidak seharusnya membuat penulis mengabaikan akurasi dan proses verifikasi informasi.

Seorang penulis, Moch Dzikry Nur Alam, mengatakan, tantangan menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi semakin ia rasakan setelah beralih dari menulis berbasis sumber internet ke peliputan langsung di lapangan.

"Ada godaan besar untuk segera merampungkan naskah hanya bermodalkan satu sumber internet, apalagi ketika sedang dikejar waktu," ujar Dzikry dikutip Selasa, 1 September 2026.

Menurut dia, persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika sebuah tulisan menyangkut orang lain. Kesalahan kecil dalam menyampaikan informasi dapat berdampak terhadap orang atau pihak yang diberitakan.

Makanya, ia membiasakan diri melakukan verifikasi silang terhadap informasi yang diperoleh. Jika menemukan data yang masih meragukan, Dzikry memilih melakukan pengecekan kembali sebelum menyelesaikan tulisannya.

"Jika ada data yang meragukan, saya lebih memilih menunda publikasi ketimbang mengorbankan kebenaran fakta," kata dia.

Dari Menulis Berbasis SEO ke Liputan Lapangan

Dzikry mulai menulis melalui blog pribadinya pada 2019. Selama beberapa tahun, sebagian besar tulisannya dibuat berdasarkan sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui internet.

Tema yang ditulis beragam, mulai dari teknologi hingga edukasi. Proses penulisan biasanya dimulai dengan mencari kata kunci yang banyak dicari pengguna internet, kemudian menyusun kerangka berdasarkan pertanyaan yang berkaitan dengan kata kunci tersebut.

Dengan pola kerja tersebut, satu artikel dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, bahkan terkadang lebih cepat. Keberhasilan tulisan saat itu juga banyak diukur berdasarkan kemampuannya muncul di halaman pertama hasil pencarian.

Cara kerja Dzikry mulai berubah pada 2024 ketika ia menggarap tulisan panjang berbasis peliputan lapangan bersama koleganya, Syahrial Fathur Rozi Darmawan.

Keduanya menyusun tulisan berjudul "Monyet Kelaparan dan Konflik Ekologis di Buddan: Kekeringan, Pertambangan, dan Kesadaran Lingkungan yang Memudar". Tulisan tersebut mengangkat konflik berulang antara warga dan monyet liar di sebuah desa di Pulau Madura.

Berbeda dengan kebiasaannya menulis artikel dalam hitungan jam, proses penyusunan laporan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Dzikry harus melakukan observasi langsung serta mewawancarai warga untuk memperoleh informasi.

Tidak seluruh keterangan yang diperoleh kemudian langsung digunakan. Sejumlah informasi dari warga harus terlebih dahulu dibandingkan dengan keterangan dari sumber lain.

“Kami menghadapi jalanan yang rusak, jarak tempuh yang jauh, hingga sulitnya mendapatkan informasi dari warga. Meski melelahkan, proses ini sangat berharga karena memberi kami banyak pelajaran tentang dunia jurnalistik dan isu lingkungan,” ujarnya.

Beberapa informasi bahkan baru diperoleh setelah kunjungan kedua atau ketiga ke lokasi.

Pengalaman tersebut membuat Dzikry menyadari bahwa proses menghasilkan tulisan mendalam tidak hanya berkaitan dengan panjang naskah. Sebagian besar pekerjaan justru berlangsung sebelum proses menulis dimulai.

“Saya kira menulis panjang hanya soal menambah jumlah kata. Ternyata yang bertambah itu pekerjaan sebelum menulisnya, bukan tulisannya,” tuturnya.

Penulis, Moch Dzikry Nur Alam. Dok Istimewa.

Verifikasi Menjadi Bagian Penting

Dzikry mengatakan, salah satu perubahan terbesar setelah melakukan peliputan lapangan adalah kebiasaannya dalam memastikan informasi.

Ketika menulis blog, kekeliruan dalam artikel dapat segera diperbaiki. Kondisinya berbeda ketika menulis berdasarkan peliputan lapangan karena informasi yang disampaikan berkaitan langsung dengan orang dan peristiwa nyata.

“Menulis di blog, kalau ada yang keliru saya bisa perbaiki menit itu juga. Menulis laporan lapangan tidak begitu. Yang saya tulis menyangkut orang yang benar-benar ada, jadi saya harus lebih dulu memastikan,” kata Dzikry.

Menurut dia, pengalaman tersebut membuat proses pengecekan informasi tidak lagi hanya diterapkan ketika mengerjakan laporan lapangan. Kebiasaan yang sama kemudian ia gunakan dalam berbagai pekerjaan menulis lainnya.

Ia menilai, kecepatan tetap diperlukan dalam pekerjaan menulis di ruang digital. Namun, kecepatan tidak seharusnya dicapai dengan mengurangi proses verifikasi.

SEO Saja Tidak Cukup

Selain akurasi, Dzikry menilai penulis digital perlu memahami cara membuat tulisan mudah ditemukan sekaligus nyaman dibaca.

Pengalamannya menulis artikel berbasis mesin pencari atau search engine optimization (SEO) membuatnya terbiasa melakukan riset kata kunci dan menyusun struktur tulisan berdasarkan kebutuhan pembaca.

Namun, menurut dia, kata kunci saja tidak cukup untuk mempertahankan perhatian pembaca.

"Dulu, sewaktu masih fokus memproduksi artikel dari balik layar, saya selalu bertumpu pada riset kata kunci. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kata kunci saja tidak cukup untuk menahan audiens," ujarnya.

Salah satu bagian yang dinilai penting adalah paragraf awal. Penulis perlu segera menyampaikan inti informasi yang dicari pembaca agar mereka dapat mengetahui relevansi tulisan sejak awal.

"Kita harus langsung memberikan jawaban atau inti masalah yang dicari pembaca di bagian awal agar mereka tidak lekas pergi," kata Dzikry.

Ia juga membiasakan diri membuat paragraf relatif pendek serta menggunakan bahasa yang lugas agar tulisan lebih mudah dibaca.

Menurut Dzikry, kemampuan menulis berdasarkan kebutuhan mesin pencari dan pengalaman melakukan peliputan lapangan tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda dan saling melengkapi.

"Menulis untuk mesin pencari melatih saya menyusun struktur, menulis laporan lapangan melatih saya mengecek ulang. Saya belum merasa selesai belajar keduanya," ujarnya.

Ketika mengalami kebuntuan dalam menulis, Dzikry juga tidak lagi selalu mencari jawabannya melalui internet. Ia memilih meninggalkan layar untuk mencari perspektif lain melalui interaksi langsung.

"Terkadang, jawaban dari kebuntuan menulis justru tidak ada di layar pencarian, melainkan pada interaksi langsung dengan lingkungan sekitar," ujarnya.

(Arga Sumantri)