Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Libur Panjang AS, Pasar Pelototi Negosiasi AS-Iran

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Libur Panjang AS, Pasar Pelototi Negosiasi AS-Iran

Husen Miftahudin • 4 July 2026 08:54

Houston: Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat menjelang libur panjang akhir pekan di Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 4 Juli 2026, harga minyak mentah Brent sebagai acuan global turun 0,4 persen menjadi USD71,51 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,6 persen menjadi USD68,25 per barel.

Pelaku pasar telah memangkas sebagian premi risiko geopolitik setelah tercapainya kesepakatan perdamaian sementara di Timur Tengah pada bulan lalu. Prospek meningkatnya arus pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk turut memperkuat ekspektasi ketersediaan pasokan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, pasar terus memantau perkembangan perundingan antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya yakin Iran telah menyetujui hampir semua yang dibutuhkan pada 4 Juli 2026, yang mengindikasikan optimisme terhadap kemajuan pembahasan kedua negara.

Namun, laporan Wall Street Journal menyebut Teheran menolak usulan untuk melepaskan klaim atas Selat Hormuz sebagai imbalan pencairan dana Iran yang dibekukan senilai miliaran dolar AS.

Dalam laporan tersebut disebutkan Washington menawarkan sejumlah insentif finansial, termasuk akses terhadap aset yang dibekukan, guna memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka. Meski demikian, Iran dilaporkan belum menerima proposal tersebut.
 

Baca juga: Harga Minyak Dunia Bergerak Tipis usai Empat Pekan Melemah


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Selat Hormuz masih jadi isu penting


Penguasaan Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu utama dalam perundingan perdamaian. Jalur pelayaran strategis tersebut sempat ditutup Teheran setelah dimulainya serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari.

Meski demikian, sejumlah laporan media menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.

Di sisi lain, lembaga keuangan ANZ menilai peningkatan posisi short dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak mentah berjangka. Meski begitu, sebagian investor mulai mengurangi posisi bearish menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.

ANZ juga mencatat kurva harga berjangka Brent masih berada dalam kondisi contango, yakni ketika harga kontrak jangka pendek lebih rendah dibandingkan kontrak jangka panjang. Kondisi tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi kelebihan pasokan minyak dalam waktu dekat.

Pulihnya arus distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz semakin memperkuat pandangan tersebut. Selain itu, ekspor minyak Arab Saudi disebut telah kembali mencapai sekitar 90 persen dari tingkat sebelum konflik.

Di tengah pelemahan harga minyak, kilang-kilang independen di Tiongkok mulai meningkatkan pembelian minyak mentah. Langkah itu didukung kebijakan harga yang lebih fleksibel dari Arab Saudi dan Kuwait.

Meski demikian, ANZ menilai Iran masih menghadapi tantangan dalam memasarkan minyak mentahnya. Berdasarkan data Vortexa, lebih dari 58 juta barel minyak masih tersimpan di fasilitas penyimpanan terapung, dengan lebih dari 90 persen di antaranya belum memiliki tujuan pengiriman.

(Husen Miftahudin)