Peran NU sebagai Civil Society Perlu Diperkuat

Logo Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Dok. NU.

Peran NU sebagai Civil Society Perlu Diperkuat

Fachri Audhia Hafiez • 3 July 2026 11:55

Jakarta: Peran Nahdlatul Ulama (NU) sebagai civil society perlu diperkuat. Sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis Islam terbesar di tanah air, NU dipandang memiliki tanggung jawab moral yang jauh lebih luhur untuk mengawal nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial dalam bingkai konsensus bernegara.

"NU tentu lebih baik terlibat dalam politik besar, yakni politik kebangsaan, dengan memosisikan diri sebagai civil society yang bisa menasihati negara. Ini yang saat ini sangat kurang, apalagi menasihati dengan cara yang adem penuh kelembutan seperti tradisi NU," ujar Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, dalam forum diskusi di Jakarta dikutip Jumat, 3 Juli 2026.
 


Sarmuji membeberkan, keterlibatan institusi keagamaan dalam "politik kecil" atau politik praktis pragmatis justru rawan mendegradasi muruah organisasi. Tarikan kepentingan jangka pendek dinilai mengaburkan fungsi utama ormas sebagai benteng pertahanan rakyat.

Sebaliknya, substansi "politik besar" menuntut kepedulian yang mendalam terhadap kualitas sistem pemilu dan keberlangsungan etika bernegara. Orientasi inilah yang dinilai akan membuat posisi tawar kultural NU menjadi jauh lebih sakral dan diperhitungkan di mata pembuat kebijakan.

"Sebagai orang NU yang tidak berada di partai yang identik dengan NU, saya berharap kelekatan NU dengan politik kecil itu dikurangi, sebaliknya keterlibatan NU di politik besar harus makin diperkuat," urai Sarmuji.

Dia menekankan bahwa tradisi kepemimpinan Islam tradisional selalu mengedepankan dialog tertutup yang persuasif. Hal ini penting ketimbang pengerahan massa yang konfrontatif.

"Karakter ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, kalau mau menasihati pemimpin maka tariklah dia dalam ruang yang tertutup. NU punya tradisi seperti itu, bisa menasihati negara tanpa membuat negara tersinggung," jelas Sarmuji.


Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji (kiri). Foto: Dok. Istimewa.

Melalui konsistensi di jalur politik kebangsaan, NU diyakini dapat menjaga jalannya pemerintahan agar tidak melenceng dari konstitusi. Kehadiran kritik yang disampaikan secara elegan dan berwibawa menjadi instrumen penting yang ditunggu demi kemajuan bangsa.

“Maka dibutuhkan betul organisasi seperti NU yang bisa menasihati negara supaya tetap dalam track yang benar dengan cara yang lebih bisa diterima. NU tidak perlu sibuk siapa yang menang pemilu dan siapa yang menang pilpres. NU tidak perlu khawatir enggak dapat berkat politik, karena justru NU makin diperhitungkan kalau bermain di politik besar,” kata Sarmuji.

(Fachri Audhia Hafiez)