Wall Street Ditutup Melemah, Saham Teknologi dan Real Estat Tertekan

Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock

Wall Street Ditutup Melemah, Saham Teknologi dan Real Estat Tertekan

Eko Nordiansyah • 11 August 2026 08:05

New York: Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, setelah mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan April. Kenaikan harga minyak, pelemahan sektor real estat, dan saham teknologi membebani sentimen pasar.

Saham-saham AS sebelumnya mencatatkan pekan terbaik dalam lebih dari tiga bulan, didorong penurunan harga minyak, musim laporan keuangan yang kuat, dan pemulihan saham semikonduktor. Penguatan tersebut membantu pasar kembali mendekati rekor tertinggi untuk pertama kalinya sejak awal Juni.

Kenaikan pekan lalu juga didorong laporan ketenagakerjaan Juli yang lebih lemah dari perkiraan sehingga pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kini, perhatian investor beralih ke sejumlah data inflasi penting untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.

Mengutip Investing, Selasa, 11 Agustus 2026, indeks S&P 500 turun 0,1 persen dan ditutup pada level 7.753,46. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,3 persen menjadi 26.605,36. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,1 persen ke level 53.975,63.

Data inflasi menjadi sorotan utama

Kalender ekonomi AS pekan ini akan menyoroti data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) dan Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) Juli yang masing-masing dirilis pada Rabu dan Kamis. Data tersebut kemudian disusul laporan penjualan ritel Juli pada Jumat.

Data tersebut dirilis setelah laporan ketenagakerjaan nonpertanian Juli pada Jumat sebelumnya memperumit prospek kebijakan The Fed. Ekonomi AS kehilangan 23 ribu lapangan kerja pada Juli, menjadi penurunan pertama sejak Februari, terutama akibat berkurangnya pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah.

Selain itu, data ketenagakerjaan untuk Mei dan Juni direvisi turun secara kumulatif sebesar 103 ribu pekerjaan.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Bagi The Fed, laporan tersebut menunjukkan adanya pelemahan di pasar tenaga kerja. Namun, kondisi pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih relatif kuat.

Di sisi lain, risiko inflasi menjadi perhatian di tengah volatilitas harga minyak akibat konflik Iran. Sejumlah pembuat kebijakan juga menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter terakhir The Fed pada Juli.

Pelaku pasar merespons data tersebut dengan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Intel manfaatkan reli saham, Apple tertekan

Sejumlah saham mencatatkan pergerakan signifikan pada perdagangan Senin. Saham Intel ditutup turun 4,1 persen setelah perusahaan mengumumkan rencana penawaran saham senilai USD15 miliar. Produsen cip tersebut menyatakan dana hasil penawaran akan digunakan untuk membiayai sebagian belanja modal.

Intel menyebut para pelanggan masih menunjukkan sinyal permintaan yang kuat dan berkelanjutan, didorong investasi besar dalam komputasi kecerdasan buatan (AI).

Penawaran saham tersebut dilakukan ketika saham Intel tengah menguat signifikan seiring upaya perusahaan memulihkan posisi sebagai salah satu pemain utama industri cip global.

Nilai saham Intel telah meningkat hampir tiga kali lipat sepanjang tahun berjalan (YTD), mengungguli pesaing seperti Advanced Micro Devices dan Nvidia serta indeks Philadelphia Semiconductor.

Sementara itu, saham Apple turun 1,5 persen. Sebelumnya, Jefferies menurunkan peringkat saham Apple berdasarkan temuan pemeriksaan rantai pasok yang mengindikasikan perusahaan membatalkan rencana pembuatan iPhone dengan bodi berbahan kaca.

Jefferies menyatakan hambatan tersebut dapat mengganggu upaya Apple mengembangkan perangkat dengan harga lebih tinggi.

(Eko Nordiansyah)