Bajaj terpakir di jalur sepeda, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Foto: Metro TV/Afifah Alfina
Dilema Ruang Publik Jakarta: Jalur Sepeda Kramat Raya Berubah Jadi 'Pangkalan' Bajaj
Metro TV • 24 August 2026 23:25
Jakarta: Jalur sepeda di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, beralih fungsi menjadi tempat parkir liar armada bajaj. Sejumlah sopir bajaj memanfaatkan jalur sepeda untuk ngetem atau menunggu penumpang.
Kondisi ini ternyata sudah terjadi sejak lama. Bahkan, sebelum jalur sepeda dibangun pada 2022, ruas jalan tersebut memang sudah ‘diduduki’ bajaj.
Namun, praktik parkir sembarangan tersebut juga sering menjadi perhatian petugas. Razia sering kali dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk menertibkan bajaj yang ngetem di jalur sepeda.
Bukannya jera, para sopir justru main 'kucing-kucingan' dengan petugas Dishub. Setelah razia selesai, mereka kembali menduduki jalur sepeda di Jalan Raya Kramat.
“Dulu pernah diusir, kapan hari ada razia juga. Kalau (ada razia) gitu ya kita putar dulu, nanti balik lagi (ke Jalan Kramat Raya),” kata sopir bajaj, Iim, kepada Metrotvnews.com, Senin, 24 Agustus 2026.
Iim menjelaskan alasannya bersama sopir bajaj lain memilih mangkal di uas Jalan Kramat Raya, meskipun melanggar aturan. Menurut dia, lokasi tersebut strategis dalam mendapatkan penumpang.
Mereka bisa mengangkut penumpang yang sedang berobat di Rumah Sakit Kramat, pekerja kantor, hingga jemaat gereja di sepanjang Jalan Kramat Raya.
Menurut dia, sebenarnya ada opsi bagi sopir bajaj untuk mangkal di dalam gang agar terhindar dari razia. Namun, hal itu akan menyulitkan Iim dan sopir bajaj lainnya untuk mendapatkan penumpang.
Jalur Sepeda Membahayakan
Sementara itu, sopir bajaj lainnya, Komar, justru menyoroti keberadaan jalur sepeda. Dia menilai jalur sepeda justru membahayakan pengguna jalan lain.
“Bahaya malah menurut saya (jalur sepeda). Dulu orang jatuh pas masih ada kerucut (traffic cone) itu, malah (sering) kecelakaan. Abis itu dicopotin,” ujar Komar.
Selain itu, dia menilai jumlah pesepeda sekarang tidak banyak lagi. Menurut dia, orang banyak naik sepeda karena waktu itu muncul wabah covid-19.
“Musiman itu. Pas sudah gak covid gak ada lagi (orang bersepeda),” jelas Komar.

Bajaj terpakir di jalur sepeda, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Foto: Metro TV/Afifah Alfina
Bagi Iim dan Komar, memanfaatkan jalur sepeda yang relatif lengang dari pesepeda adalah caranya mendapatkan uang. Mereka berharap bisa terus memanfaatkan jalur itu tanpa harus was-was dirazia jika status jalur sepeda dihapus.
Namun, pendapat berbeda disampaikan pedagang kopi keliling, Rama. Dia berharap jalur sepeda dipertahankan. Sebab, semakin ramai orang yang melintas, peluangnya mendapatkan uang semakin besar.
“Jalur (sepeda) ini kan penting ya, kalau bisa jangan (digusur). Saya sih enggak setuju (digusur). Apalagi sekarang banyak UMKM brand-brand (gerobak keliling) kaya gini," kata Rama.
Sebelumnya, perdebatan efektivitas jalur sepeda ini muncul dari masyarakat hingga sampai kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung beberapa waktu lalu. Akhirnya muncul wacana mengkaji ulang jalur sepeda yang dinilai tidak efektif karena banyak pemotor menyerobot jalur sepeda untuk menembus kemacetan.
(Afifah Alfina)