Oposisi Israel Desak Perang Lawan Iran Tetap Lanjut Meski AS Mundur

Avigdor Lieberman. Foto: Anadolu.

Oposisi Israel Desak Perang Lawan Iran Tetap Lanjut Meski AS Mundur

Muhammad Reyhansyah • 24 March 2026 15:47

Tel Aviv: Pemimpin oposisi Israel Avigdor Lieberman pada Senin, 23 Maret 2026 menyerukan agar perang melawan Iran tetap dilanjutkan meskipun Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menarik diri. 

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul komentar Presiden AS, Donald Trump, mengenai adanya “pembicaraan konstruktif” dengan Teheran.

“Jika Amerika Serikat keluar dari perang, kita harus tetap melanjutkannya. Dari sudut pandang kami, menggulingkan rezim adalah hal yang esensial,” kata Lieberman, yang juga memimpin partai Yisrael Beytenu, dalam pembukaan rapat fraksi partainya, seperti dikutip Anadolu, Selasa, 24 Maret 2026.

Lieberman juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Israel yang dinilainya terlalu fokus pada isu legislasi domestik di tengah ancaman keamanan yang masih berlangsung.

“Saat warga di wilayah utara mendengar sirene serangan udara setiap beberapa menit, Knesset justru membahas nasib rakyat Israel dan perluasan kewenangan pengadilan rabinik—ini benar-benar kegilaan,” ujarnya.



Presiden AS Donald Trump. Foto: New York Times.
 

 

Trump tunda serangan selama 5 hari


Sementara itu, Trump menyatakan telah memerintahkan penundaan selama lima hari terhadap seluruh serangan ke pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Keputusan tersebut diambil dengan merujuk pada “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” yang berlangsung dalam dua hari terakhir.

“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah, dalam dua hari terakhir, melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh dan menyeluruh atas permusuhan di Timur Tengah,” ujar Trump melalui platform media sosialnya.

Ia menambahkan, berdasarkan “arah dan nuansa dari pembicaraan yang mendalam, rinci, dan konstruktif tersebut, yang akan terus berlanjut sepanjang pekan ini,” dirinya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Trump menegaskan jeda tersebut bergantung pada perkembangan dan keberhasilan pembicaraan yang sedang berlangsung.

Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menyasar Israel, serta wilayah Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan sektor penerbangan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)