Konflik di Sudan berlangsung antara militer pemerintah dan pasukan RSF. (Anadolu Agency)
Koordinator PBB Sebut Dunia Gagal Tangani Krisis Kemanusiaan di Sudan
Willy Haryono • 15 April 2026 14:11
Berlin: Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, menyatakan bahwa dunia telah gagal menghadapi ujian kemanusiaan di Sudan, seiring konflik di negara tersebut yang kini sudah memasuki tahun keempat.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertemuan komunitas internasional di Berlin, Jerman pada Rabu, 15 April 2026, yang membahas upaya penghentian konflik yang semakin mematikan.
Pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sejak 15 April 2023 telah menyebabkan hampir 34 juta orang, atau sekitar 65 persen populasi, membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.
Sebanyak 14 juta warga telah mengungsi, terdiri dari sembilan juta pengungsi internal dan sekitar 4,4 juta lainnya yang melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Chad, dan Sudan Selatan.
Kelaparan dan Keruntuhan Sistem Dasar
Negara-negara tetangga kini berada di ambang krisis akibat tekanan arus pengungsi yang terus meningkat. Sementara itu, meskipun hampir empat juta orang mulai kembali ke daerah asal, mereka dihadapkan pada kehancuran infrastruktur, termasuk sistem air, fasilitas kesehatan, dan tempat tinggal.Krisis kemanusiaan di Sudan terus memburuk tanpa tanda-tanda mereda, dengan kelaparan yang telah berlangsung selama dua tahun di beberapa wilayah.
Direktur Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Program Pangan Dunia (WFP), Ross Smith, mengatakan jutaan warga kini terjebak dalam perjuangan harian untuk memenuhi kebutuhan pangan dan mempertahankan martabat dasar.
Kelaparan telah terkonfirmasi di wilayah Darfur dan Kordofan, yang juga menjadi titik konflik paling intens.
Situasi ini diperparah oleh ketidakstabilan global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur pelayaran dan meningkatkan harga pangan, bahan bakar, serta pupuk.
Perempuan dan Anak Jadi Korban Terberat
Dampak perang juga sangat berat dirasakan oleh perempuan dan anak-anak. Data UN Women menunjukkan sekitar 12,7 juta orang membutuhkan bantuan terkait kekerasan seksual dan berbasis gender.“Penggunaan kekerasan seksual tertanam dalam cetak biru perang Sudan,” ujar Direktur Regional UN Women untuk Afrika Timur dan Selatan, Anna Mutavati.
Kondisi anak-anak juga semakin memburuk. Lebih dari 4.300 anak dilaporkan tewas atau mengalami cacat sejak konflik dimulai.
Serangan drone disebut bertanggung jawab atas sekitar 80 persen korban jiwa dan luka di kalangan anak-anak, dengan hampir 700 warga sipil tewas dalam tiga bulan pertama tahun ini saja.
Selain menimbulkan korban, penggunaan teknologi militer seperti drone juga menghancurkan infrastruktur vital serta menghambat distribusi bantuan kemanusiaan.
Saat ini, sekitar 70 hingga 80 persen fasilitas kesehatan di wilayah konflik tidak berfungsi atau mengalami kekurangan sumber daya secara kritis.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres terus menyerukan gencatan senjata segera, akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta jalur aman bagi warga sipil.
Rencana bantuan kemanusiaan tahun ini menargetkan 20 juta orang, namun kebutuhan pendanaan hampir 3 miliar dolar AS masih mengalami kekurangan signifikan.
Fletcher mendesak tindakan nyata segera untuk menghentikan kekerasan, melindungi warga sipil, memastikan akses ke komunitas paling rentan, serta memperkuat pendanaan respons kemanusiaan. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Serangan RSF Hantam Kawasan Permukiman Warga Sudan, 14 Orang Tewas