Bukan Sekadar Baca Buku, Perpustakaan Harus Jadi Ruang Dialog Hidup

Anggota Komisi X DPR Furtasan Ali Yusuf. Foto: Dok. Istimewa.

Bukan Sekadar Baca Buku, Perpustakaan Harus Jadi Ruang Dialog Hidup

Fachri Audhia Hafiez • 15 February 2026 16:13

Jakarta: Perpustakaan sekolah sering kali identik dengan deretan rak kayu yang sunyi dan tumpukan buku yang membisu. Konsep konvensional itu coba didekonstruksi untuk mengisi ruang dialog hidup.

"Jadi perpustakaan bukan hanya sebagai tempat menyimpan buku dan membaca buku tetapi juga menjadi ruang dialog mengulas isi buku-buku tersebut,” kata anggota Komisi X DPR Furtasan Ali Yusuf melalui keterangan tertulis, Minggu, 15 Februari 2026.
 


Hal itu disampaikan Furtasan saat mengunjungi Pondok Pesantren Assohaabah, Kota Cilegon, Banten. Dia meresmikan program aspirasi revitalisasi bangunan SMP IT Asshohabah senilai Rp1,13 miliar yang salah satunya fokus pada pembangunan perpustakaan.

Furtasan berharap dari ruang-ruang dialog di perpustakaan tersebut, lahir generasi yang mampu menembus jenjang perguruan tinggi dengan bekal literasi yang kokoh.

“Beberapa waktu yang lampau, guru-guru menyampaikan kepada saya jika sekolah ini belum punya ruang perpustakaan yang memadai. Padahal, perpustakaan itu penting sebab menjadi episentrum ilmu pengetahuan yang dapat diakses oleh siswa maupun guru sendiri," ujar Furtasan.

Sebagai alumni angkatan 1981-1984 di lembaga tersebut, Furtasan membawa angin segar melalui Program Aspirasi Revitalisasi Sekolah tersebut. Fasilitas yang dibangun mulai dari laboratorium komputer hingga perpustakaan baru tersebut yang dirancang untuk memicu nalar kritis siswa.  Dia juga menyalurkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 104 siswa. 


Anggota Komisi X DPR Furtasan Ali Yusuf (ketujuh dari kiri). Foto: Dok. Istimewa.

Di hadapan ratusan santri dan wali murid, Furtasan juga menekankan pentingnya transformasi pesantren menuju modernitas tanpa menanggalkan jati diri sebagai penghafal Alquran. Ia turut berharap, keberadaan fasilitas baru ini menjadi motor penggerak bagi santri untuk mahir berbahasa asing dan memiliki integritas intelektual.

"Saya berharap Pondok Pesantren Assohaabah terus bertransformasi menjadi pesantren modern. Target ke depan, tahun depan harus sudah memiliki SMA IT dan tetap menjaga kualitas lulusan sebagai penghafal Alquran serta mahir berbahasa Arab dan Inggris," ujar Furtasan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)