Jenderal Hoegeng semasa hidup (Foto: Dok. MI)
Mengenang Jenderal Polisi Hoegeng, Teladan Kejujuran dan Kesederhanaan
Putri Purnama Sari • 4 February 2026 16:54
Jakarta: Nama Jenderal Hoegeng Iman Santoso kembali menjadi perhatian publik setelah kabar duka wafatnya sang istri, Meriyati Hoegeng, yang meninggal dunia pada usia 100 tahun.
Peristiwa tersebut membuat masyarakat kembali mengenang Hoegeng sebagai figur teladan yang hingga kini dikenal luas sebagai polisi paling jujur dalam sejarah Indonesia.
Meski Hoegeng telah wafat lebih dari dua dekade lalu, namanya tetap hidup dalam ingatan publik karena integritas, keberanian, dan keteguhannya dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Profil Singkat Jenderal Hoegeng Iman Santoso
Hoegeng Iman Santoso lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921. Ia dikenal sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) periode 1968–1971, pada masa awal pemerintahan Orde Baru.Hoegeng diangkat menjadi Kapolri oleh Presiden Soeharto, di tengah masa transisi politik yang krusial. Saat itu, kepercayaan publik terhadap penegak hukum berada di titik terendah.
Sebagai Kapolri, Hoegeng menegakkan disiplin dan etika secara ketat. Ia menutup ruang kompromi terhadap praktik “beking” dan menegur keras anggota kepolisian yang menunjukkan gaya hidup berlebihan.
Dalam salah satu pidato internalnya yang dikenang hingga kini, Hoegeng menegaskan pentingnya kejujuran dalam menjalankan tugas negara. Selama menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng dikenal memiliki prinsip yang kuat, di antaranya:
- Tegas terhadap setiap pelanggaran hukum
- Menolak suap dan segala bentuk gratifikasi
- Menjalani hidup sederhana meski menduduki jabatan tinggi
Kapolri yang Dikenal Sangat Jujur

Foto: Medcom.id
Julukan “polisi jujur” melekat kuat pada diri Hoegeng karena konsistensinya menolak penyalahgunaan wewenang. Ia tak segan menindak pelanggaran hukum, meskipun melibatkan tokoh berpengaruh atau elite kekuasaan.
Kesederhanaan hidupnya menjadi bukti nyata integritas tersebut. Di tengah jabatan strategis yang diemban, Hoegeng tetap hidup apa adanya dan menjauh dari gaya hidup mewah.
Karier Cemerlang Sejak Awal Kemerdekaan
Setelah Proklamasi 1945, Hoegeng aktif bertugas di bidang keamanan dan penyelidikan di berbagai daerah. Sejak awal kariernya, ia dikenal sebagai aparat muda yang berani dan bersih, menolak kolusi di tengah situasi politik yang penuh tekanan.Namanya semakin bersinar ketika ditunjuk sebagai Direktur Jenderal Imigrasi pada 19 Januari 1961. Selama memimpin lembaga tersebut, Hoegeng secara konsisten membersihkan praktik suap dan memperbaiki sistem keimigrasian, meski langkahnya kerap menuai perlawanan.
Keteladanan yang Diuji Tekanan Kekuasaan
Sikap tegas Hoegeng dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu membuatnya kerap berseberangan dengan kepentingan elite. Ia berani mengusut kasus penyelundupan dan kejahatan besar, meski melibatkan pihak-pihak berpengaruh.Akibat keteguhannya tersebut, Hoegeng hanya menjabat sebagai Kapolri selama tiga tahun dan diberhentikan pada 2 Oktober 1971. Meski demikian, ia tetap memegang teguh prinsip hidup sederhana dan terhormat hingga masa pensiunnya.
Kisah keteladanan Hoegeng menjadi bagian penting dalam sejarah kepolisian Indonesia. Ia dikenal menolak berbagai hadiah, mulai dari mobil hingga rumah mewah, yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Bahkan saat memimpin Imigrasi, Hoegeng meminta istrinya menutup usaha keluarga demi menghindari persepsi penyalahgunaan jabatan. Setiap pemberian yang datang ke rumah dinasnya selalu dikembalikan tanpa kompromi.
"Lebih baik sederhana tetapi terhormat daripada kaya tapi hina," ujarnya di masa pensiun, menjadi filosofi hidup yang terus dikenang.
Warisan Moral yang Terus Hidup
Jenderal Hoegeng Iman Santoso wafat pada 14 Juli 2004 di Jakarta. Namun, warisan nilai yang ia tinggalkan jauh melampaui jabatan yang pernah diembannya. Prinsip kejujuran, keberanian, dan kesederhanaan yang ia praktikkan tetap relevan hingga kini.Sebagai bentuk penghargaan atas integritas dan pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2022. Hingga hari ini, nama Hoegeng tetap menjadi simbol polisi ideal, penegak hukum yang berdiri tegak tanpa kompromi.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com