Dedi Mulyadi Siapkan Hadiah Rp250 Juta bagi Penemu Pelaku Penyekapan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan keterangan seusai menjenguk korban penganiayaan di RSHS Bandung, Senin, 22 Juni 2026. (ANTARA/Ricky Prayoga)

Dedi Mulyadi Siapkan Hadiah Rp250 Juta bagi Penemu Pelaku Penyekapan

Roni Kurniawan • 23 June 2026 14:04

Bandung: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyiapkan hadiah sebesar Rp250 juta bagi siapa pun yang dapat membantu menemukan keberadaan Taufik Hidayat. Pria tersebut diduga buronan dalam kasus penganiayaan sadis terhadap seorang perempuan di Jawa Barat.

Pengumuman tersebut disampaikan Dedi Mulyadi melalui akun Instagram pribadinya, Selasa, 23 Juni 2026. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya polisi dalam memburu pelaku yang kini masih dalam pengejaran.

"Saya berikan hadiah Rp250 juta sebagai bentuk partisipasi saya agar Taufik Hidayat segera ditemukan dan segera ditangkap," ujar Dedi.
 


Dedi mengaku sangat geram dengan peristiwa yang menimpa korban. Menurutnya, tindakan yang diduga dilakukan pelaku merupakan perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan.

Ia mengungkapkan, korban yang merupakan seorang perempuan diduga mengalami penyekapan serta penganiayaan berat oleh pelaku. Akibat kekerasan tersebut, korban mengalami luka serius di beberapa bagian tubuhnya.

"Pada seluruh warga Jawa Barat dan warga Indonesia, saya menyampaikan ada peristiwa yang biadab terjadi di Jawa Barat. Seorang perempuan yang dipacari, disekap, dianiaya, dicacatkan kedua matanya hingga tidak bisa melihat lagi. Bibirnya juga mengalami luka berat. Seluruh tubuhnya melepuh dan rusak," kata Dedi.

Dedi menilai kasus tersebut tidak dapat ditoleransi dan harus segera dituntaskan. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa jajaran kepolisian, khususnya Polda Jawa Barat, mampu menangkap pelaku dalam waktu dekat.

"Saya sangat marah dengan laki-laki seperti ini yang sekarang menjadi buronan. Saya meyakini tim Polda Jawa Barat akan mampu dengan cepat menangkapnya," tambahnya.

Meski demikian, Dedi membuka ruang partisipasi masyarakat untuk membantu proses pencarian. Ia meminta warga yang mengetahui keberadaan Taufik Hidayat agar segera melaporkan informasi tersebut kepada aparat penegak hukum.

Menurut Dedi, hadiah Rp250 juta akan diberikan kepada pihak yang berhasil menemukan keberadaan buronan tersebut dan menyerahkannya kepada aparat. Penghargaan juga diberikan bagi siapa pun yang memberikan informasi akurat yang berujung pada penangkapan pelaku.

"Tetapi saya juga memberikan ruang bagi warga di mana pun berada untuk berpartisipasi mencarinya. Siapa yang bisa menemukan Taufik Hidayat, menyerahkannya kepada aparat atau menginformasikan kepada aparat keberadaannya, saya memberikan hadiah Rp250 juta," tegasnya.

Dedi juga mengapresiasi jajaran kepolisian yang saat ini terus melakukan pengejaran terhadap pelaku. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membantu aparat dengan memberikan informasi yang valid apabila mengetahui keberadaan buronan tersebut.

"Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada jajaran Polda Jabar. Mari kita bersama-sama menangkap pelaku ini. Dan seluruh warga Jawa Barat bersama-sama mencarinya," ungkap Dedi.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Metrotvnews.com/P Aditya Prakasa


Sebelumnya, kasus penyekapan dan penganiayaan sadis terhadap seorang perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, menjadi perhatian publik dalam beberapa pekan terakhir. Korban berinisial YTR (29) ditemukan dalam kondisi mengenaskan setelah diduga mengalami kekerasan berkepanjangan yang menyebabkan luka berat hingga kehilangan fungsi penglihatan secara permanen. 

Peristiwa ini mencuat setelah korban ditemukan dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Keluarga mengaku telah kehilangan kontak dengan korban selama kurang lebih tiga tahun. Dalam kurun waktu tersebut, komunikasi korban dengan keluarga sangat terbatas dan kerap menimbulkan kecurigaan. 

Berdasarkan keterangan keluarga, korban terakhir diketahui menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Taufik Hidayat. Sejak saat itu, keberadaan korban sulit diketahui hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan medis serius

(Silvana Febiari)