Wall Street Berbalik Menguat, Dow Jones Paling Banyak Raup Cuan

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Mentarimulia.co.id

Wall Street Berbalik Menguat, Dow Jones Paling Banyak Raup Cuan

Husen Miftahudin • 12 September 2026 09:23

New York: Saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat, mengakhiri penurunan selama empat hari berturut-turut. Penguatan terjadi setelah harga minyak mentah global turun dari level tertingginya baru-baru ini sehingga memberikan ruang bagi pasar saham menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan depan.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 12 September 2026, Dow Jones Industrial Average naik 509,19 poin atau 0,98 persen menjadi 52.573,29. S&P 500 bertambah 65,28 poin atau 0,86 persen menjadi 7.656,98. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 251,31 poin atau 0,96 persen menjadi 26.333,04.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau. Sektor layanan komunikasi dan barang konsumsi nonesensial memimpin penguatan masing-masing sebesar 1,35 persen dan 1,13 persen. Sebaliknya, sektor utilitas turun 0,34 persen, sedangkan sektor kesehatan terkoreksi 0,14 persen.

Adapun, pasar energi global mengalami penurunan pada Jumat setelah reli selama beberapa hari sebelumnya mendorong harga minyak acuan ke level tertinggi baru. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun USD2,43 atau 2,37 persen menjadi USD100,05 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun USD3,02 atau 2,81 persen menjadi USD104,61 per barel di London ICE Futures Exchange. Penurunan harga minyak memberikan kelegaan bagi pasar saham karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral.
 



(Ilustrasi. Foto: iStock)
 

Inflasi AS naik 3,4%


Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS meningkat 0,4 persen secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,4 persen, berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Jumat.

Sementara itu, CPI inti, yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi, tercatat sebesar 2,4 persen. Data tersebut memperkuat pandangan investor yang menilai inflasi AS masih terlalu tinggi bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

Menurut alat FedWatch dari CME Group, pasar keuangan memperkirakan probabilitas 87 persen The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan Rabu pekan depan.

Dari perkembangan perusahaan, saham Oracle turun 1,74 persen setelah sempat mencatat kenaikan tajam pada sesi sebelumnya. Saham pembuat perangkat lunak Adobe menguat 1,37 persen. Sementara itu, saham operator supermarket Kroger naik 2,7 persen setelah membukukan hasil kuartalan yang lebih baik dari perkiraan pada Jumat pagi.

(Husen Miftahudin)