Ilustrasi. Foto: dok Xinhua.
Wall Street Ambruk di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Husen Miftahudin • 11 September 2026 08:16
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat. Penurunan ini menjadi pelemahan selama empat sesi perdagangan berturut-turut, di tengah lonjakan harga minyak mentah.
Mengutip Xinhua, Jumat, 11 September 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 316,56 poin atau 0,60 persen menjadi 52.064,10. Indeks S&P 500 melemah 44,66 poin atau 0,58 persen ke level 7.591,70. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 171,62 poin atau 0,65 persen menjadi 26.081,73.
Tekanan terjadi di mayoritas sektor utama S&P 500. Sebanyak sembilan dari 11 sektor mencatat penurunan pada penutupan perdagangan. Sektor material menjadi kelompok dengan pelemahan terdalam, yakni 1,48 persen. Sektor utilitas menyusul dengan penurunan satu persen.
Di sisi lain, dua sektor masih mampu mencatatkan penguatan. Sektor jasa komunikasi naik 0,25 persen, sedangkan sektor barang konsumsi pokok menguat 0,24 persen.
Baca Juga :
Saham Wall Street Ditutup Melemah, Ini Pemicunya
Harga minyak tembus USD100/barel
Harga minyak mentah melonjak tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan biaya bahan bakar yang tinggi berpotensi bertahan hingga pemilihan paruh waktu.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik USD6,43 atau 6,69 persen menjadi USD102,48 per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November juga melonjak USD6,42 atau 6,34 persen menjadi USD107,63 per barel di London ICE Futures Exchange.
Perhatian investor juga tertuju pada tekanan inflasi setelah AS merilis data harga grosir pada Kamis. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen (PPI) naik 5,4 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Sementara itu, PPI inti yang tidak memasukkan biaya makanan dan energi meningkat 4,6 persen secara tahunan. Kenaikan harga yang masih tinggi, ditambah lonjakan harga energi, turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan bank sentral mendatang meningkat menjadi 73 persen. Angka tersebut naik dari 64 persen sebelum data PPI dirilis.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: iStock)
Pergerakan saham
Dari sisi korporasi, saham perusahaan penyedia perangkat lunak Oracle turun lebih dari 5 persen selama perdagangan reguler. Namun, saham Oracle kemudian melonjak hampir tujuh persen dalam perdagangan setelah jam pasar setelah perusahaan melaporkan hasil keuangan kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan.
Saham Apple juga menguat 3,56 persen setelah perusahaan meluncurkan ponsel pintar lipat pertamanya.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati rilis indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Agustus pada Jumat.
Data tersebut menjadi salah satu indikator inflasi penting yang dirilis sebelum Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menggelar pertemuan untuk menentukan kebijakan suku bunga pada pekan berikutnya.