Saham Wall Street Ditutup Melemah, Ini Pemicunya

Ilustrasi Wall Street. Foto: Xinhua

Saham Wall Street Ditutup Melemah, Ini Pemicunya

Eko Nordiansyah • 10 September 2026 08:18

New York: Saham Wall Street pada Rabu, 9 September 2026, ditutup di zona merah dan obligasi pemerintah mengalami aksi jual setelah ada pembaruan informasi dari Departemen Keuangan mengenai operasi buyback obligasi ternyata mengecewakan para investor.

Sentimen pasar sebelumnya sudah tertekan oleh harga minyak acuan global yang menembus angka USD100 per barel untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga setengah bulan.

Terdapat pula sikap hati-hati menjelang rilis data inflasi penting AS yang dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve akhir bulan ini.

Di sisi lain, saham Apple pulih dari level terendah sesi perdagangan dan berakhir turun 0,3 persen. Raksasa teknologi tersebut memperkenalkan iPhone Duo, versi lipat pertama dari ponsel pintar andalannya.

Dikutip dari Investing, Kamis, 10 September 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,5 persen dan ditutup ke level 7.638,95 poin, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,6 persen ke level 26.253,34 poin, dan indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,8 persen ke level 52.381,08 poin.

Pasar obligasi kecewa dengan pengumuman buyback Departemen Keuangan

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak tajam saat para pedagang instrumen pendapatan tetap melepas obligasi mereka, setelah Departemen Keuangan menyatakan akan membeli kembali obligasi senilai hingga USD6 miliar dengan tenor 10 hingga 20 tahun, meningkat dari sebelumnya yang sebesar USD2 miliar.

Bulan lalu, departemen tersebut menyatakan akan meningkatkan besaran pembelian kembali (buyback) menjadi setidaknya USD4 miliar, sementara laporan media menyebutkan bahwa ekspektasi pasar sebelumnya adalah angka minimal USD10 miliar.

Imbal hasil (yield) acuan obligasi AS tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 4,2 basis poin menjadi 4,846 persen. Sebelumnya, angka ini sempat naik 1,2 basis poin ke level 4,816 persen sebelum pengumuman tersebut dirilis. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun, naik 2,7 basis poin menjadi 4,425 persen.

Langkah Departemen Keuangan AS ini dipandang sebagai intervensi tak terduga untuk meredam lonjakan imbal hasil di tengah aksi jual berkelanjutan pada pasar utang pemerintah.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut bertujuan untuk meredam "demam" di pasar obligasi. "Saat berspekulasi, Anda ingin mempercepat segalanya. Anda ingin meraup keuntungan sebesar dan secepat mungkin," ujarnya dalam sebuah acara Breitbart News.

Aksi jual di pasar obligasi dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak, kegelisahan terkait besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta kekhawatiran mengenai utang nasional AS yang terus membengkak.

Terkait suku bunga, peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pada 16 September masih cukup tinggi, yakni sekitar 60 persen menurut perangkat CME FedWatch. Angka ini bertahan setelah laporan data tenaga kerja Agustus yang sangat kuat pekan lalu memicu penyesuaian drastis terhadap ekspektasi kebijakan moneter The Fed.

Saat ini, perhatian tertuju pada laporan indeks harga produsen (PPI) Agustus yang akan dirilis Kamis dan data indeks harga konsumen (CPI) Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga. Angka-angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat secara signifikan memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Saham Apple turun

Saham Apple sempat menyentuh titik terendah sesi perdagangan setelah perusahaan terbesar kedua di dunia tersebut memperkenalkan iPhone lipat dalam acara peluncuran produk tahunannya. Ini merupakan perombakan desain besar pertama untuk produk tersebut sejak 2007.

Perangkat yang diberi nama iPhone Duo ini akan dijual dengan harga mulai dari USD1.999, menjadikannya iPhone termahal dari Apple. Pemesanan awal (pre-order) akan dibuka pada 16 Oktober dan produk ini akan tersedia mulai 23 Oktober. Apple juga memamerkan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max baru, yang dilengkapi dengan asisten suara Siri yang telah diperbarui serta fitur-fitur kecerdasan buatan (AI).

Saham perusahaan sempat memulihkan sebagian penurunannya dan akhirnya ditutup turun 0,3 persen. Selain itu, acara peluncuran ini merupakan yang pertama bagi pimpinan baru John Ternus, yang menggantikan CEO veteran Tim Cook pada awal bulan ini.

(Eko Nordiansyah)