Kemarau Panjang, Musim Tanam Ketiga di Kotim Bergeser ke September

Petani di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh, sedang menyemprot padi. Media Indonesia/ Amiruddin Abdullah Reubee

Kemarau Panjang, Musim Tanam Ketiga di Kotim Bergeser ke September

Silvana Febiari • 30 July 2026 22:03

Kotawaringin Timur: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memproyeksikan musim tanam ketiga pada 2026 bergeser menjadi September. Pergeseran dari jadwal yang biasanya dimulai Agustus itu dipengaruhi kekeringan selama musim kemarau.

"Jadi kalau daerah Lampuyang itu kan dalam satu tahun biasanya tiga kali tanam dan sekarang seharusnya mendekati musim tanam ketiga, tetapi karena kondisinya mulai kekeringan maka yang bisa kita lakukan adalah menggeser waktu tanam,” kata Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto, dilansir dari Antara, Kamis, 30 Juli 2026. 

Proyeksi tersebut sejalan dengan pembaruan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit yang merevisi prediksi puncak musim kemarau di Kotim. 
 


Semula puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Namun setelah evaluasi perkembangan cuaca dan iklim, BMKG memproyeksikan puncaknya bergeser menjadi September 2026.

BMKG Kotim memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang. Penyesuaian jadwal tanam dinilai menjadi langkah paling aman untuk menghindari risiko gagal panen.

“Pergeseran waktu tanam dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi lahan yang mulai mengalami kekeringan, sekaligus menunggu dukungan sarana irigasi yang saat ini masih diajukan kepada pemerintah pusat,” ujarnya.

Pemerintah daerah telah mengajukan bantuan enam unit irigasi pompa (Irpom) dan empat unit irigasi pipa (Irpip) untuk membantu menjaga ketersediaan air di lahan pertanian selama musim kemarau.

Usulan tersebut diharapkan dapat segera terealisasi agar petani tidak perlu menunda masa tanam terlalu lama dan produktivitas pertanian tetap terjaga.

“Pengajuannya sudah kami sampaikan. Kalau proses anggaran pusat bisa dipercepat tentu akan sangat membantu percepatan masa tanam di lapangan,” tambahnya.

Evaluasi mengenai musim tanam ini mengadu pada pertanian di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, yang merupakan sentra pertanian padi Kotim. 

Petani di Lampuyang baru saja menyelesaikan panen pada Juli. Pada kondisi normal, persiapan musim tanam ketiga biasanya dimulai pada Agustus agar siklus tanam tiga kali dalam setahun tetap tercapai.

Namun, kondisi cuaca tahun ini memaksa pemerintah bersama petani menyesuaikan jadwal agar penanaman dilakukan saat peluang keberhasilannya lebih besar.

“Musim tanam ketiga yang biasanya Agustus bergeser. Kalau sesuai prakiraan BMKG dan tanpa intervensi bantuan apa pun, kemungkinan baru bisa mulai persiapan sekitar akhir September,” sebutnya.


Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto. (ANTARA/Devita Maulina)

Apabila bantuan Irpom dan Irpip dapat diterima lebih cepat, maka pergeseran musim tanam diperkirakan tidak terlalu lama dan penanaman sudah bisa dimulai pada awal September. Dengan begitu, Agustus dimanfaatkan sebagai masa persiapan lahan sambil menunggu kondisi air lebih memadai.

“Kalau bantuan itu datang, pergeserannya bisa lebih awal. Jadi Agustus ini kemungkinan menjadi masa pra-musim tanam, sedangkan maju mundurnya tetap bergantung pada kesiapan fitur pendukung untuk mempercepat masa tanam,” ucapnya.

Ia mengakui mundurnya musim tanam otomatis akan menggeser jadwal panen. Meski begitu, kondisi tersebut diperkirakan belum memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan pangan daerah karena stok beras pemerintah masih mencukupi.

Data Bulog menunjukkan cadangan pangan masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar tiga bulan ke depan. Dengan begitu, tidak perlu menimbulkan kekhawatiran.

DPKP memastikan koordinasi dengan petani terus dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL). Para petani di sentra produksi padi Kotim telah berpengalaman menghadapi perubahan musim sehingga mampu menyesuaikan waktu tanam berdasarkan kondisi cuaca di lapangan.

(Silvana Febiari)