Magang Nasional Didorong Buka Jalan Pekerjaan Layak

Ilustrasi pekerja. Foto: Unsplash.com/Christin Hume.

Magang Nasional Didorong Buka Jalan Pekerjaan Layak

Fachri Audhia Hafiez • 3 September 2026 14:50

Jakarta: Pelaksanaan Magang Nasional Batch 2 didorong tidak sekadar menjadi ajang formalitas penambah pengalaman kerja di dalam curriculum vitae (CV). Program tersebut diminta benar-benar efektif meningkatkan kompetensi serta membuka jalan bagi fresh graduate menuju pekerjaan yang layak.

“Yang lebih penting adalah apakah pengalaman tersebut benar-benar meningkatkan kompetensi dan membuka jalan menuju pekerjaan yang layak,” kata anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 3 September 2026.
 


Netty menilai program yang diinisiasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) ini sejatinya sangat relevan untuk menjembatani kesenjangan (mismatch) antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Namun, indikator keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari banyaknya jumlah peserta yang terserap.

“Magang memang penting untuk memberikan pengalaman kerja kepada fresh graduate. Tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan pengalaman,” ujar Netty.

Adapun Magang Nasional atau Magang Hub Batch 2 Angkatan 2 diselenggarakan oleh Kemnaker. Pendaftaran dilaksanakan pada 3–8 September 2026. 

Program tersebut menawarkan kesempatan bagi lulusan diploma, sarjana, maupun profesi untuk bekerja selama kurang lebih enam bulan di berbagai instansi pemerintah, kementerian/lembaga, hingga perusahaan swasta besar dengan imbalan gaji yang pantas. Kesempatan ini juga terbuka bagi peserta yang belum lolos pada batch sebelumnya.

Pemerintah didorong mengawasi secara ketat agar para peserta mendapatkan bimbingan pembelajaran nyata serta pendampingan yang relevan selama periode magang. Ia mewanti-wanti jangan sampai program ini disalahgunakan hanya untuk memperoleh tenaga kerja murah demi menyelesaikan pekerjaan rutin.

“Jangan sampai kita hanya menyelesaikan persoalan ‘belum punya pengalaman kerja’, tetapi setelah magang selesai mereka kembali menghadapi persoalan yang sama, yaitu sulit mendapatkan pekerjaan,” ucap Netty.


Ilustrasi Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Fachri Audhia Hafiez.

Oleh karena itu, Netty mendorong evaluasi program tidak berhenti pada angka partisipasi semata, melainkan berorientasi pada outcome jangka panjang. Evaluasi harus mencakup persentase peserta yang berhasil terserap di dunia kerja, kesesuaian bidang kerja dengan kompetensi, hingga keberlanjutan karir mereka.

“Ukuran keberhasilan program harus sampai pada outcome. Berapa yang setelah magang diterima bekerja? Apakah pekerjaannya sesuai kompetensi? Dan apakah mereka mampu bertahan dalam pekerjaan tersebut?” jelas Netty.

(Fachri Audhia Hafiez)