Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Dok. Antara.
Pramono: Penggunaan QRIS di Pasar Tradisional Bisa Kurangi Copet
Aris Setya • 6 April 2026 12:55
Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa transformasi ke sistem pembayaran digital seperti QRIS bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan langkah strategis untuk meminimalisasi ruang gerak pelaku kriminal. Khususnya mencegah pencopet yang kerap beraksi di kawasan pasar tradisional.
“Orang misalnya dengan digitalisasi apakah nanti pakai QRIS atau pakai yang lainnya, itu akan secara signifikan juga mengurangi copet. Karena selama ini ya kalau mau copet kartu kan enggak bisa, yang dicopet ya pasti uang cash,” ujar Pramono dalam sambutan groundbreaking Pasar Gardu Asem dan Pasar Kramat Jaya di Jakarta Pusat, Senin, 6 April 2026.
Pramono menjelaskan bahwa ketergantungan pada uang tunai selama ini menjadi magnet bagi para pelaku tindak kriminal di area pasar yang ramai. Dengan beralih ke transaksi nontunai, keamanan baik bagi pedagang maupun pembeli akan meningkat secara signifikan karena tidak ada lagi fisik uang yang bisa diincar.
Sejalan dengan upaya peningkatan keamanan tersebut, Pemprov DKI Jakarta juga berkomitmen melakukan revitalisasi fisik pada ratusan pasar di ibu kota. Pramono berharap perubahan sistem pembayaran ini berjalan beriringan dengan perbaikan fasilitas agar pasar tradisional tidak lagi terkesan kumuh dan rawan.
“Saya berharap betul pasar-pasar di Jakarta yang berjumlah 153 ini sebisa mungkin kita lakukan revitalisasi dan kita modernisasi. Termasuk dalam pembayarannya,” lanjut mantan Sekretaris Kabinet tersebut.

Ilustrasi pasar tradisional. Foto: Dok. Media Indonesia.
Sebagai langkah awal, pembangunan Pasar Kramat Jaya dan Pasar Gardu Asem telah resmi dimulai dengan dukungan dana Penyertaan Modal Daerah (PMD). Pasar Kramat Jaya dibangun dengan alokasi Rp10,2 miliar dan ditargetkan rampung pada Januari 2027. Sementara itu, Pasar Gardu Asem yang menelan biaya Rp10,6 miliar diperkirakan selesai pada Maret 2027.
Melalui perbaikan fisik dan sistem pembayaran digital ini, Pemprov DKI optimistis pasar tradisional akan menjadi tempat yang jauh lebih aman, nyaman, dan menjadi pilihan utama bagi warga Jakarta untuk bertransaksi tanpa rasa khawatir.