Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Anadolu Agency)
Ukraina Dorong Penyelesaian Isu Sensitif Lewat Pertemuan Langsung Zelensky-Putin
Muhammad Reyhansyah • 28 January 2026 16:08
Kyiv: Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyatakan Presiden Volodymyr Zelensky siap bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas isu-isu yang disebutnya sebagai “paling sensitif” dalam rencana perdamaian 20 poin guna mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Dalam wawancara dengan surat kabar daring Ukraina European Pravda yang dipublikasikan Selasa, 27 Januari 2026, Sybiha mengatakan Kyiv menargetkan penandatanganan rencana damai yang telah dibahas sejak November tahun lalu, sepanjang kesepakatan tersebut dapat dicapai.
Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah persoalan krusial masih belum terselesaikan, terutama terkait wilayah dan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia.
“Justru untuk menyelesaikan persoalan-persoalan inilah presiden siap bertemu dengan Putin dan membahasnya,” ujar Sybiha, dikutip dari Anadolu, Rabu, 28 Januari 2026.
Ia menambahkan tidak melihat urgensi untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dengan alasan agar tidak muncul jalur perundingan paralel.
“Ada tim perunding yang mencakup perwakilan Kementerian Luar Negeri. Membuat jalur tambahan saat ini tidak tepat dan tidak perlu,” katanya.
Kemajuan Perundingan di Abu Dhabi
Sybiha juga menyinggung perundingan antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat yang berlangsung di Abu Dhabi pekan lalu. Menurutnya, pembicaraan trilateral tersebut mencerminkan adanya kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik.Ia mengonfirmasi bahwa diskusi bilateral juga berlangsung di Abu Dhabi dan menggambarkan perundingan tersebut sebagai “sangat kompleks”, namun dengan pembahasan yang “sangat terfokus”.
Selain itu, Sybiha menyebut adanya jalur perundingan terpisah yang melibatkan perwakilan militer dari kedua pihak. Dalam forum tersebut, kata dia, berlangsung diskusi “substansial” mengenai parameter gencatan senjata serta mekanisme pemantauan dan verifikasi penghentian pertempuran.
Kelanjutan Dialog Rusia-Ukraina
Terkait dokumen kerangka kerja 20 poin yang sedang dibahas, Sybiha menjelaskan bahwa dokumen tersebut bersifat bilateral dan akan ditandatangani Amerika Serikat bersama Ukraina.“Dan dengan Rusia, Amerika Serikat harus menandatangani secara terpisah. Untuk saat ini, itulah struktur yang sedang dibahas, tetapi perundingan masih berlangsung. Ini adalah sebuah proses,” ujarnya.
Pada Senin, Zelenskyy dalam pidato malamnya mengatakan pembahasan awal tengah dilakukan untuk pertemuan lanjutan antara delegasi Rusia dan Ukraina. Ia menyebut indikasi menunjukkan kedua pihak dapat kembali bertemu pada 1 Februari.
Di hari yang sama, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan putaran berikutnya dari perundingan perdamaian Rusia–Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat direncanakan berlangsung pekan depan di Abu Dhabi, meski tanpa menyebutkan tanggal pasti.
Rusia dan Ukraina sebelumnya menggelar konsultasi selama dua hari pada 23–24 Januari di Abu Dhabi dengan partisipasi Amerika Serikat. Kyiv dan Washington menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai “konstruktif”, sementara Peskov mengatakan kontak telah dimulai secara konstruktif meski masih ada “pekerjaan besar” yang harus diselesaikan.
Sementara itu, pada Kamis lalu, Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff mengatakan dalam sebuah acara di Davos, Swiss, bahwa “banyak kemajuan” telah dicapai dalam perundingan damai Rusia–Ukraina dan bahwa negosiasi kini tinggal menyisakan satu isu terakhir.
Baca juga: Zelensky Kecam Serangan Rusia ke Kereta Penumpang yang Tewaskan 4 Orang