Distribusi air dilakukan di sejumlah daerah di Pulau Lombok yang mengalami krisis air bersih karena dampak dari terjadinya kekeringan akibat musim kemarau. FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi.
BMKG Prediksi Sebagian Besar Wilayah NTB Masuki Musim Kemarau April
Whisnu Mardiansyah • 9 March 2026 10:53
Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Peralihan ini terjadi setelah musim hujan yang berlangsung sejak Oktober 2025.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo mengatakan sebanyak 84 persen wilayah NTB akan mengalami peralihan ke musim kering pada bulan depan. Secara spesifik, 74 persen zona musim memulai kemarau pada dasarian I April 2026 atau tanggal 1-10 April.
"Secara spesifik 74 persen zona musim memulai kemarau pada dasarian I April 2026 (tanggal 1-10 April)," ujarnya dalam konferensi pers di Mataram seperti dilansir Antara, Senin, 9 Maret 2026.
Nuga menjelaskan bila dibandingkan dengan kondisi normal berdasarkan data klimatologi periode 1991–2020, awal musim kemarau tahun 2026 didominasi kondisi yang lebih maju.
BMKG memprediksi sekitar 70 hingga 73 persen wilayah NTB mengalami awal musim kemarau yang datang lebih cepat dibandingkan kondisi normal. Selain datang lebih awal, sifat musim kemarau juga diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
"Sifat musim kemarau atau disebut tingkat kekeringan diprediksi dan didominasi dalam kategori bawah normal mencakup 93-95 persen wilayah NTB," kata Nuga.

Ilustrasi kekeringan. (MGN/Nur Soli)
Musim kemarau dengan kategori bawah normal tersebut mengindikasikan curah hujan lebih sedikit ketimbang musim biasanya. Akibatnya, musim kemarau diperkirakan lebih kering dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.
Nuga mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersiap menghadapi akhir musim hujan yang segera berganti menjadi awal musim kemarau pada April 2026. Antisipasi dini diperlukan untuk mencegah potensi bencana yang mungkin timbul.
"Durasi kemarau lebih kering dan lebih panjang, sehingga perlu kita antisipasi lebih awal supaya tidak terjadi bencana-bencana yang tidak kita harapkan," ujarnya.