Gubernur Bali Wayan Koster pertemuan dengan FKUB Bali bahas seruan bersama Hari Raya Nyepi yang berhimpitan Idul Fitri di Denpasar, Rabu (11/3/2026). ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari
Malam Takbiran Bertepatan dengan Nyepi, Ini Seruan Gubernur Bali
Whisnu Mardiansyah • 11 March 2026 19:41
Denpasar: Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bunyi seruan bersama yang sudah disampaikan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali mengenai Hari Raya Nyepi tetap sama. Hal ini disampaikan usai rapat bersama pemimpin-pemimpin organisasi keagamaan di Bali pada Rabu, 11 Maret 2026.
"Tadi bersepakat tidak berubah," ucap Koster di Denpasar seperti dilansir Antara, Rabu, 11 Maret 2026.
Adapun seruan bersama yang paling disoroti tentang kebijakan takbiran apabila keputusan Sidang Isbat menunjukkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026 atau sehari setelah Nyepi, yaitu tetap memberi izin beribadah dengan berjalan kaki ke masjid dan tanpa pengeras suara.
Hingga saat ini, Pemprov Bali masih menunggu keputusan resmi Sidang Isbat. Untuk mengantisipasi ketika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran, Gubernur Koster meminta masing-masing organisasi keagamaan, khususnya Muslim, mengajak umatnya ikut menjaga perayaan Nyepi agar tetap khidmat.
"Kan nanti keputusan resmi ada Sidang Isbat, tapi dorongannya adalah masing-masing majelis dari MUI, Muhammadiyah, NU, ke internal masing-masing bagaimana agar perayaannya ini berjalan dengan baik dan khidmat," ujarnya.
Hal yang pasti, setelah pertemuan tertutup ini seluruh forum keagamaan sepakat agar Hari Raya Nyepi di Bali berjalan kondusif, aman, dan nyaman.
"Seruannya saling menghormati satu sama lain, jaga toleransi, kerukunan, dan keharmonisan antar umat beragama," kata Gubernur Koster.
Ketua FKUB Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menambahkan dengan adanya arahan Pemprov Bali, selanjutnya pimpinan-pimpinan organisasi keagamaan akan meminta umatnya di Bali menjaga kesakralan Nyepi.

Ilustrasi Pawai takbiran. Medcom.id/ Fajri Fatmawati
"Kita sudah mendapat jaminan yang konkret dari MUI, NU, dari Muhammadiyah yang akan meminta umatnya masing-masing benar-benar menjaga kesakralan Nyepi sehingga misalnya takbiran atau tarawih akan dijalankan tanpa mengganggu kekhusukan Nyepi dan di sana juga ada desa adat, ada pecalang yang tidak mungkin membiarkan terjadi penodaan dan pelanggaran," ujarnya.
FKUB Bali mengingatkan bahwa situasi Nyepi berdekatan dengan Idulfitri bukan hal baru di Bali. Bahkan beberapa hari keagamaan umat lainnya juga pernah bersamaan dengan Nyepi. Namun semua umat beragama di Bali menjunjung tinggi toleransi sehingga selama ini selalu berjalan baik sesuai bunyi seruan bersama.
Melihat tahun ini media sosial banyak memengaruhi gejolak di masyarakat hingga tingkat nasional, Penglingsir Agung mengajak seluruh masyarakat Bali tidak terprovokasi.
"Kadang-kadang juga mohon maaf ya ada yang memprovokasi sengaja kan tidak berpikir positif kerukunan, ya itu sudahlah yang jelas kami di majelis-majelis dan umat beragama kami bertekad akan nanti akan menjelaskan kepada umat-umat kami sendiri," kata dia.