Diskusi bertajuk 'Shaping Indonesia’s Workforce: Connecting Education, Skills and Industry'. Dok Istimewa.
Menata Ulang Pendidikan Vokasi, Menyiapkan Tenaga Kerja Masa Depan Indonesia
Arga Sumantri • 26 August 2026 20:39
Jakarta: Pengembangan tenaga kerja yang terampil dan adaptif menjadi hal penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang seiring Visi Indonesia Emas 2045. Hal ini memerlukan jalur pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri dan tujuan nasional, sehingga peserta didik dapat membangun kemampuan praktis sekaligus pengetahuan akademik.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menetapkan transformasi sumber daya manusia dan pendidikan sebagai hal yang penting untuk mencapai ambisi Indonesia pada 2045.
Menanggapi kebutuhan yang terus berkembang tersebut, The Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University Australia mendorong perubahan cara pandang terhadap pendidikan vokasi. RMIT University menilai vokasi bukan jalur yang lebih rendah daripada universitas, melainkan sama berharganya dalam suatu sistem pendidikan tersier yang saling terhubung.
"Kami memahami bahwa sistem pendidikan tersier yang saling terhubung dapat lebih baik memenuhi kebutuhan peserta didik masa kini, pemberi kerja, dan tujuan nasional," ujar Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah dalam keterangan tertulis, Rabu, 26 Agustus 2026.
Sebagai universitas dual-sektor terbesar di Australia, RMIT menyelenggarakan pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi dalam satu institusi. Hal ini memberikan lebih banyak pilihan studi kepada peserta didik melalui pelatihan praktis, pembelajaran akademik, dan pengalaman industri.
Menurut dia, RMIT menekankan perlunya hubungan yang lebih erat antara pendidikan vokasi, pendidikan tinggi, dan industri seiring langkah Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. RMIT juga semakin menyediakan jalur yang mulus antara pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi.
Pendekatan yang terhubung ini semakin relevan bagi Indonesia. Perubahan kebutuhan tenaga kerja dan capaian ketenagakerjaan menunjukkan perlunya hubungan yang lebih kuat antara pendidikan dan dunia kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lulusan sekolah menengah kejuruan memiliki tingkat pengangguran terbuka sebesar 8,63 persen pada 2025, yang menegaskan perlunya terus memperkuat jalur dari pendidikan menuju pekerjaan. Angka tersebut menunjukkan pentingnya memperbaiki transisi menuju pekerjaan yang bermakna, bukan mempertanyakan nilai pendidikan vokasi itu sendiri.
"Indonesia membutuhkan sistem yang menghubungkan pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi; menempatkan keterampilan praktis sejajar dengan pengetahuan akademik; mengintegrasikan pembelajaran dengan industri; serta memungkinkan peserta didik berpindah di antara berbagai jalur seiring perkembangan industri dan karier," beber dia.
Di Australia, RMIT mendorong sistem pendidikan tersier yang terhubung melalui kolaborasi dengan kalangan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.
Pendekatan tersebut tercermin dalam model unggulan Earn and Learn RMIT, yang memungkinkan peserta didik memperoleh kualifikasi sambil bekerja penuh waktu dengan bayaran bersama mitra industri.
Program ini mencakup berbagai sektor, termasuk teknik, keamanan siber, layanan kesehatan, dan ekonomi bersih. Inisiatif ini menunjukkan nilai kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemberi kerja, yang dapat meningkatkan relevansi pembelajaran, mempermudah transisi menuju pekerjaan, dan mendukung pengembangan keterampilan sepanjang hayat.
Model pembelajaran seperti ini akan menjadi penting dalam mendukung target produktivitas dan partisipasi Pemerintah Federal Australia, terutama dalam kaitannya dengan Australian Universities Accord.

Ilustrasi. Dok Metrotvnews.com
Keselarasan Pendidikan dan Industri
Berbagai prioritas tersebut dibahas dalam diskusi bertajuk 'Shaping Indonesia’s Workforce: Connecting Education, Skills and Industry', yang diselenggarakan RMIT University bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, serta Kedutaan Besar Australia di Indonesia.Diskusi tersebut menyoroti perlunya keselarasan yang lebih kuat antara pendidikan dan industri, jalur pembelajaran yang fleksibel, peningkatan kapasitas pendidik, serta kolaborasi yang lebih erat antara pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi. Diskusi juga menekankan keahlian teknis perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, kepemimpinan, adaptabilitas, dan penerapan praktis.
"Kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan industri akan membantu memastikan pembelajaran tetap relevan serta lulusan lebih siap memasuki dunia kerja," ujar perwakilan Kemendiktisaintek, Ardi Findyartini.
Guna menerapkan prinsip-prinsip tersebut diperlukan kolaborasi yang berkelanjutan. RMIT Southeast Asia Hub yang baru akan mempertemukan pemerintah, industri, dan institusi pendidikan untuk menghasilkan solusi bagi prioritas tenaga kerja Indonesia.
Hub ini diperkirakan akan dibuka pada 2026 di World Trade Centre 2 Jakarta. RMIT Southeast Asia Hub akan mempertemukan para mitra di Indonesia untuk mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja, bertukar keahlian, dan bersama-sama mengembangkan inisiatif yang relevan dengan konteks lokal dalam bidang pengembangan profesional, kursus singkat terapan, jalur pendidikan, teknologi digital, industri kreatif, masa depan regeneratif, serta MedTech dan kesehatan.
RMIT Southeast Asia Hub disebut akan menjadi pintu utama di Indonesia bagi mitra pendidikan, industri, dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam mencari solusi bagi kebutuhan tenaga kerja nasional.