Menteri Ben-Gvir Klaim Seluruh Tepi Barat Milik Israel, Area A-B-C Jadi Sorotan

Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B, dan C berdasarkan Kesepakatan Oslo II 1995. (Anadolu Agency)

Menteri Ben-Gvir Klaim Seluruh Tepi Barat Milik Israel, Area A-B-C Jadi Sorotan

Willy Haryono • 3 October 2026 08:31

Tel Aviv: Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengklaim bahwa seluruh tiga wilayah administratif di Tepi Barat adalah “milik Israel."

Pernyataan tersebut bertentangan dengan pengaturan yang ditetapkan dalam Kesepakatan Oslo antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Berdasarkan Kesepakatan Oslo II 1995, Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B, dan C. Area A berada di bawah kendali penuh Palestina, sedangkan Area B berada di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel. Area C, yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh Israel.

“Tidak ada perbedaan antara Area A, B, dan C. Seluruh tanah itu milik kami. Ini adalah negara kami,” kata Ben-Gvir kepada stasiun televisi sayap kanan Israel Channel 14.

Ben-Gvir juga mengancam akan membubarkan Otoritas Palestina serta mendorong pemindahan warga Palestina dari Tepi Barat dan Jalur Gaza jika dirinya menjadi menteri pertahanan.

Ia mengklaim 60 persen warga Palestina ingin “beremigrasi," meski terdapat laporan yang berlawanan dengan klaim tersebut.

“Saya akan mendedikasikan waktu untuk ini dan saya akan mengelola prosesnya secara berkelanjutan. Setiap minggu, saya akan mengadakan pembahasan yang melibatkan semua pihak terkait,” katanya, dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Ketika ditanya bagaimana Israel dapat menyediakan pasukan tambahan untuk Tepi Barat dan Gaza, Ben-Gvir mengatakan, “Ini sangat sederhana: Semakin banyak Anda mengizinkan tentara untuk menembak dan menggunakan kekuatan, semakin sedikit tenaga yang Anda butuhkan.”

“Saya akan menghapus pembatasan terhadap tentara kami. Saat ini, aturan penggunaan kekuatan oleh polisi jauh lebih longgar dibandingkan dengan tentara,” lanjutnya, sembari merujuk pada penggunaan senjata api oleh polisi terhadap warga Palestina.

Meski Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah beberapa kali berbicara mengenai pemindahan warga Palestina, Ben-Gvir mengklaim Netanyahu “tidak cukup menginginkannya” dan menyalahkan perdana menteri tersebut karena gagal mendorong kebijakan tersebut.

Pernyataan Ben-Gvir disampaikan di tengah kampanye menjelang pemilihan Knesset Israel pada 27 Oktober. Jajak pendapat menunjukkan dukungan terhadap koalisi pemerintah menurun, sementara dukungan terhadap kelompok oposisi meningkat.

Ben-Gvir belakangan meningkatkan ancamannya terhadap warga Palestina di tengah persaingan yang semakin ketat antarpartai Israel. Ia juga beberapa kali mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki dan melakukan ritual Talmud di Tembok Barat.

Baca juga: Menteri Israel Serbu Masjid Ibrahimi di Tepi Barat Bersama Ratusan Pemukim

(Willy Haryono)