Protes Pelajar Prancis: 1.800 Sekolah Terdampak, 57 Kampus Diblokade

Sekitar 1.800 sekolah menengah di Prancis terdampak aksi protes pelajar. (Anadolu Agency)

Protes Pelajar Prancis: 1.800 Sekolah Terdampak, 57 Kampus Diblokade

Willy Haryono • 6 October 2026 18:24

Paris: Sekitar 1.800 sekolah menengah atas di seluruh Prancis diblokade, terdampak demonstrasi, atau ditutup oleh otoritas pendidikan pada Selasa, 6 Oktober 2026, di tengah berlanjutnya aksi protes pelajar terkait kondisi pendidikan nasional.

Serikat pelajar Union Syndicale Lyceenne (USL) mengatakan tingkat partisipasi dalam aksi protes tersebut telah mencapai rekor, menurut surat kabar Prancis Le Parisien.

Para pelajar menuntut penambahan tenaga pengajar dan sumber daya untuk pendidikan publik. Mereka menyoroti ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, serta kondisi bangunan sekolah yang semakin memburuk.

Demonstrasi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Nantes, Marseille, dan Lyon. Organisasi pelajar juga merencanakan aksi besar di Place de la Republique, Paris, pada pukul 14.00 waktu setempat atau 12.00 GMT.

Serikat guru mendukung mobilisasi tersebut dan menyerukan anggotanya untuk bergabung dalam demonstrasi di Paris serta sekitar 30 kota lainnya.

Union Etudiante, serikat mahasiswa, mengatakan lebih dari 57 lokasi universitas diblokade dan 90 persen universitas di Prancis daratan terdampak aksi tersebut.

Protes di Tengah Sorotan terhadap Polisi

Aksi protes berlangsung di tengah meningkatnya kritik terhadap tindakan polisi setelah seorang remaja berusia 15 tahun mengalami luka serius akibat ledakan granat di luar sebuah sekolah di Lens pada Senin.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyebut insiden tersebut sebagai tragedi dan mengatakan penyelidikan akan mengungkap kronologi kejadian.

Menurut Nunez, remaja tersebut diduga kehilangan satu tangannya setelah ledakan granat kejut. Namun, ia menegaskan penyebab kejadian tersebut masih belum dapat dipastikan.

Nunez membela intervensi polisi ketika terjadi kekerasan. Menurut dia, respons aparat harus tetap proporsional.

Sementara itu, guru-guru di Sekolah Menengah Atas Geoffroy-Saint-Hilaire di Etampes menuduh polisi menggunakan kekuatan berlebihan saat kerusuhan pada Kamis pekan lalu. Mereka mengatakan siswa dan staf sekolah terkena gas air mata, didorong, dan dipukuli.

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengatakan pemerintah menargetkan pembukaan kembali sekolah-sekolah yang terdampak secara bertahap mulai Rabu besok. Ia juga berjanji memberikan respons dalam waktu delapan hari terhadap persoalan yang telah diidentifikasi terkait penggantian guru yang tidak hadir.

Kementerian Pendidikan juga membuka konsultasi daring anonim yang memungkinkan siswa sekolah menengah menyampaikan keluhan dan usulan hingga 23 Oktober. Masukan tersebut akan dirangkum secara nasional pada akhir bulan untuk menjadi bahan dialog dengan para siswa.

Baca juga: Aksi Protes Pelajar Prancis Berlanjut, 500 Sekolah Hentikan Aktivitas Belajar

(Willy Haryono)