Panitia kurban membawa hewan kurban yang telah dipotong. Foto: ANTARA/HO-Pemprov DKI Jakarta.
Sambut Iduladha, Pemprov DKI Gencarkan Gerakan Eco Qurban
Fachri Audhia Hafiez • 25 May 2026 18:11
Jakarta: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengimbau masyarakat serta seluruh panitia penyelenggara ibadah kurban untuk menerapkan prinsip Eco Qurban pada Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah. Langkah strategis ini digencarkan guna mengantisipasi lonjakan volume sampah plastik dan pencemaran limbah cair di area permukiman.
“Eco Qurban ini selaras dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 30 Tahun 2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemotongan Hewan Kurban, tidak hanya dalam proses pelaksanaannya, tetapi hingga tahap distribusi daging kurban,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 25 Mei 2026.
Dudi memproyeksikan sekitar 77.436 ekor hewan kurban akan disembelih di seluruh wilayah Jakarta pada tahun ini. Jumlah fantastis tersebut berpotensi memicu tumpukan limbah organik masif berupa darah, sisa organ dalam, hingga penggunaan air bersih skala besar selama proses pembersihan fasilitasi pemotongan.
Berdasarkan data siber DLH, satu ekor hewan kurban rata-rata menghabiskan 500 hingga 1.000 liter air bersih untuk proses sterilisasi. Merujuk pada Pasal 8 Ayat 3 Pergub Nomor 30 Tahun 2025, DLH DKI memiliki kewenangan penuh untuk mengawasi ketat tata kelola sampah di area Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun lokasi penjualan musiman.
Terkait teknis limbah cair, Dudi melarang keras kepanikan panitia yang kerap membuang darah langsung ke selokan warga. Darah hewan wajib ditampung di wadah kedap air dan dicampur desinfektan seperti kapur atau klorin.
“Air bekas pencucian juga perlu dipastikan tidak lagi mengandung darah agar tidak mencemari saluran air dan masih dapat dimanfaatkan, misalnya untuk menyiram tanaman,” tambah Dudi.
.jpeg)
Ilustrasi hewan kurban. Foto: Metro TV/M Iqbal.
Sedangkan untuk sisa organ dalam atau jeroan yang tidak dikonsumsi, masyarakat disarankan menimbunnya di dalam tanah atau memanfaatkan teknologi biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF). DLH juga mewanti-wanti munculnya food waste atau sampah makanan sisa siber dari konsumsi panitia di lapangan.
Tak kalah krusial, gerakan ramah lingkungan ini juga menyasar pada penggunaan logistik distribusi. DLH menginstruksikan pengemasan daging beralih dari kantong plastik hitam sekali pakai ke wadah alternatif tradisional yang mudah terurai seperti besek bambu, daun pisang, atau daun jati.
Dudi berharap regulasi dan edukasi ini dapat dipatuhi secara kolektif demi menjaga higienitas kota Jakarta selama hari besar keagamaan berlangsung.
“Melalui penerapan EcoQurban ini, kami berharap pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya membawa manfaat sosial dan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta mengurangi timbulan sampah di Jakarta,” ucap dia.