Pendukung Houthi mengangkat replika rudal dan drone saat demonstrasi anti-AS dan anti-Israel di Sanaa, Yaman. (Yahya Arhab/EPA-EFE)
Bertemu di Oman, Houthi Janji Tidak akan Menyerang Kapal AS dan Israel
Riza Aslam Khaeron • 17 September 2026 10:51
Muscat: Pejabat Amerika Serikat menggelar pertemuan dengan perwakilan kelompok Houthi Yaman di Oman pada akhir pekan lalu. Menurut laporan Times of Israel (ToI) yang mengutip lima sumber terkait pada Rabu, 16 September 2026, pertemuan ini berlangsung beberapa hari setelah milisi yang didukung Iran tersebut merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah dan memukul mundur pasukan yang disokong Arab Saudi.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah eskalasi pertempuran antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan Houthi, serta mengemukanya kecaman atas dugaan serangan Houthi yang menargetkan kota suci Makkah.Tiga sumber anonim menyebutkan bahwa pertemuan yang sebelumnya dirahasiakan itu dilaksanakan di Kedutaan Besar AS di Muscat dengan fasilitasi pemerintah Oman selaku mediator regional.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Minggu, 13 September 2026 tersebut, pihak Houthi menegaskan kepada pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika Serikat dan tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata tahun 2025 dengan Washington.
Seorang sumber dari Yaman menambahkan, Houthi juga berjanji tidak akan menyerang kapal berbendera Israel maupun kapal komersial internasional lainnya, kecuali kapal-kapal milik Arab Saudi.

Presiden AS, Donald Trump. (EFE/EPA/BONNIE CASH)
Laporan tersebut tampak didukung dari laporan terpisah dari media lainnya. Pada Kamis, 17 September 2026, satu hari setelah laporan ToI, The Guardian melaporkan bahwa dalam pertemuan di Oman, AS menyetujui untuk tidak terlibat langsung maupun memberi dukungan militer kepada Arab Saudi dalam melawan Houthi.
"Houthi berjanji kepada pemerintah Amerika Serikat bahwa pelayaran Amerika dan internasional tidak akan terganggu di Laut Merah, dan bahwa satu-satunya ancaman hanya ditujukan pada kapal-kapal Arab Saudi atau kapal yang mengangkut minyak Saudi," ujar mantan Wakil Duta Besar AS untuk Yaman, Nabeel Khoury, sebagaimana dikutip The Guardian.
Laporan mengenai pertemuan di Oman ini mengemuka setelah beberapa pejabat tinggi AS mengonfirmasi adanya jalur komunikasi dengan Houthi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Sabtu, 12 September 2026 bahwa pihak Houthi menghubungi pemerintahannya untuk meminta AS tidak mengintervensi konflik di Yaman. Wakil Presiden AS JD Vance juga membenarkan pada Senin, 14 September 2026 bahwa Washington berinteraksi langsung dengan kelompok tersebut, meski tanpa membeberkan rincian lebih lanjut.
Delegasi Houthi dalam pertemuan tersebut dilaporkan mencakup pejabat senior berbasis di Muscat yang dijatuhi sanksi oleh AS, Mohammad Abdulsalam, serta pejabat senior lainnya, Abdelmalik al-Ajiri.
Houthi Kuasai Pantai Laut Merah Yaman
Pekan lalu, Houthi merebut kendali efektif atas seluruh garis pantai Laut Merah Yaman. Pesisir tersebut mencakup pelabuhan bersejarah Mokha serta Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb, sebuah titik jalur vital (chokepoint) bagi pasokan minyak global selain Selat Hormuz yang saat ini masih diblokade Iran.Merespons pergerakan masif Houthi, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menghubungi Presiden Trump pekan lalu guna meminta bantuan militer AS. Namun, Reuters melaporkan bahwa Washington menyampaikan kepada Riyadh tidak akan terlibat secara langsung. Houthi, yang telah menguasai ibu kota Yaman sejak 2014, telah berperang melawan koalisi pimpinan Saudi selama lebih dari satu dekade.
Meski konflik sempat mereda berkat gencatan senjata, pertempuran kembali pecah pada Juli lalu saat Houthi memberlakukan blokade terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah sebagai balasan atas pemblokadean pelabuhan Yaman oleh Saudi.
Enggan terlibatnya AS secara langsung menekan Arab Saudi untuk memilih jalan diplomasi dengan Houthi terkait masa depan pemerintahan Yaman, atau membentuk aliansi regional baru dengan Pakistan dan Turki guna meredam kekuatan Houthi.