Korban KM Virgo Transport 8 Sebut Nakhoda Tinggalkan Penumpang saat Kapal Miring

Salah satu korban KM Virgo Transport 8 asal Flores, Hilarius. (Metro TV/ Elsa Pratiwi)

Korban KM Virgo Transport 8 Sebut Nakhoda Tinggalkan Penumpang saat Kapal Miring

Metro TV • 15 September 2026 10:03

Banjarmasin: Sejumlah korban KM Virgo Transport 8 yang selamat kini masih menjalani pemulihan dan menunggu proses kepulangan di Hotel Kharisma Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mereka menceritakan detik-detik kapal mulai miring hingga pengalaman saat proses penyelamatan berlangsung.

Salah satu korban asal Flores, Hilarius, mengaku mengalami kepanikan saat kapal mulai miring. Ia juga mengaku kecewa dengan sikap anak buah kapal (ABK) dan nakhoda yang dinilai tidak memberikan tanda atau sinyal kepada penumpang ketika kondisi kapal mulai memburuk.

"(Nakhoda) pake sekoci dua orang, melarikan diri," kata Hilarius di Banjarmasin, Selasa, 15 September 2026. 


Menurut Hilarius, situasi semakin mencekam ketika kapal dalam kondisi terbalik. Para penumpang berusaha menyelamatkan diri.

"(Kami) keluar dengan keadaan panik, ada yang lompat ke laut, ada yang tunggu bagaimana keadaan kapal ini, mau teriak minta pelampung enggak ada yang respons dari awak kapal," ujarnya.

Kekecewaan serupa disampaikan Abu Bakar, korban asal Surabaya. Ia tidak mendapatkan tanda atau pemberitahuan dari ABK saat kapal mulai oleng.

"Waktu jam 12 terbangun karena ombak besar. Waktu itu sesama sopir bilang 'kapalnya miring, kapalnya miring' spontan saya langsung bangun ambil pelampung, orang-orang masih bengong," ungkapnya.  

Abu Bakar juga melihat adanya ABK yang berusaha menyelamatkan diri menggunakan sekoci ketika ratusan penumpang masih berada dalam kondisi darurat.


Sejumlah korban KM Virgo Transport 8 yang selamat masih menjalani pemulihan dan menunggu proses kepulangan di Hotel Kharisma Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (Metro TV/ Elsa Pratiwi)

Saat ini, para korban masih menunggu arahan Basarnas maupun pemerintah terkait proses pemulangan. Mereka berharap dapat segera kembali ke daerah asal serta memperoleh akses komunikasi dengan keluarga. (Elsa Pratiwi)

(Silvana Febiari)