Rupiah Ditutup di Rp16.810,5/USD Selasa Sore

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Ditutup di Rp16.810,5/USD Selasa Sore

Eko Nordiansyah • 10 February 2026 16:19

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan. Rupiah berbalik arah setelah sempat menguat tipis dari dolar AS pagi tadi.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 10 Februri 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.810,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah sebanyak 5,50 poin atau setara 0,03 persen dari posisi Rp16.805 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance justru menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp16.795 per USD. Rupiah menguat 38 poin atau setara 0,23 persen dari Rp16.833 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.799 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.838 per USD.

 

Faktor yang memengaruhi rupiah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Washington dan Teheran yang mengatakan pada akhir pekan pembicaraan nuklir tidak langsung antara keduanya akan berlanjut setelah apa yang mereka gambarkan sebagai diskusi positif yang diadakan di Oman pada Jumat.

"Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini," jelas Ibrahim.

Kekhawatiran akan konflik telah membuat para pedagang memberikan premi risiko yang lebih besar pada minyak, dengan Trump juga mengancam tindakan militer terhadap Teheran. Namun, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya.

Fokus minggu ini juga pada sejumlah data ekonomi penting dari konsumen minyak terbesar di dunia. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sementara data indeks CPI akan dirilis pada Jumat.

"Data-data tersebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh," urai Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)