Ilustrasi: Freepik
7 Wasiat Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari yang Bisa Jadi Pedoman
Riza Aslam Khaeron • 26 February 2026 21:18
Jakarta: Jandab bin Janadah, atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, merupakan salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kesantunan dan kebaikan budi pekertinya.
Melansir artikel NU online pada 2016, dalam sebuah riwayat yang tercatat dalam kitab Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Harits karya Ibnu Abi Usamah (w. 282 H), Rasulullah SAW memberikan tujuh pesan mendalam kepada Abu Dzar sebagai bekal menjalani kehidupan.
Meskipun wasiat ini ditujukan secara spesifik kepada Abu Dzar, secara kaidah ushul fiqih (al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khususis sabab), pesan ini berlaku umum dan sangat relevan bagi seluruh umat Islam sebagai panduan etika serta motivasi hidup. Apa saja isinya? Berikut ulasannya.
Teks Hadis Wasiat
Rasulullah SAW menyampaikan wasiatnya sebagai berikut:
Artinya: “Karibku (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan tujuh hal kepadaku: pertama, agar aku senantiasa melihat orang yang di bawahku dan jangan sekali-kali melihat orang yang di atas; kedua, mencintai orang miskin dan mendekati mereka; ketiga, selalu berkata benar, meskipun pahit; keempat, tidak meminta-minta kepada siapapun; kelima, menjalin tali silaturahmi sekalipun mereka berpaling; keenam, tidak takut dicaci ketika berdakwah di jalan Allah, ketujuh; memperbanyak membaca la haula wa quwwata illa billah.
| Baca Juga: Niat Zakat Fitrah Lengkap untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Orang Lain |
Rincian dan Makna Tujuh Wasiat
Berikut adalah rincian ketujuh pesan tersebut beserta maknanya dalam konteks kehidupan bermasyarakat:1. Melihat ke Bawah dalam Urusan Dunia
Kita dianjurkan untuk senantiasa melihat orang yang berada di bawah kita dalam hal ekonomi, kesehatan, atau fasilitas hidup. Hal ini bertujuan agar kita menjadi hamba yang lebih bersyukur dan terhindar dari sifat iri hati atas nikmat yang diberikan kepada orang lain.
2. Mencintai dan Mendekati Orang Miskin
Wasiat ini merupakan anjuran untuk tidak menjauhi mereka yang kekurangan. Dengan mendekati fakir miskin, empati kita akan terasah, ikatan persaudaraan menguat, dan rasa kepedulian sosial akan tumbuh lebih subur.
3. Berkata Benar Meskipun Pahit
Integritas adalah kunci utama kepribadian seorang muslim. Kita diminta untuk tetap teguh pada kebenaran dan kejujuran, meskipun menyampaikannya terasa berat atau memiliki konsekuensi yang sulit bagi diri sendiri.
4. Tidak Meminta-minta kepada Orang Lain
Wasiat ini mengajarkan kemandirian dan menjaga kehormatan diri (iffah). Rasulullah mendorong umatnya untuk berusaha semaksimal mungkin dan tidak bergantung atau membebani orang lain dengan permintaan yang tidak perlu.
5. Menjalin Silaturahmi Meski Berpaling
Menyambung tali persaudaraan harus tetap dilakukan, bahkan kepada kerabat yang mungkin menjauh atau memutus hubungan. Inilah hakikat silaturahmi yang sejati, yakni memperbaiki hubungan yang retak.
6. Tidak Takut Celaan dalam Berdakwah
Dalam menjalankan perintah Allah atau menyebarkan kebaikan, kita tidak boleh surut hanya karena takut dicaci maki atau direndahkan. Kehadiran rida Allah harus menjadi prioritas utama di atas penilaian manusia.
7. Memperbanyak Zikir La Haula Wala Quwwata Illa Billah
Kalimat ini merupakan pengakuan tulus bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah. Zikir ini berfungsi sebagai pengingat akan keterbatasan manusia dan keagungan kekuasaan Allah SWT yang maha kuasa.
Tujuh wasiat Rasulullah SAW ini bukan sekadar pesan historis untuk Abu Dzar, melainkan panduan hidup yang mencakup aspek spiritual, etika, dan sosial. Dengan mengamalkannya, kita dapat memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta sekaligus menciptakan harmoni yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.