TPS 3R Hankam Palmerah Sulap Sampah Jadi 1,2 Ton Bubur Organik per Hari

Bubur sampah organik di TPS 3R Hankam Palmerah. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

TPS 3R Hankam Palmerah Sulap Sampah Jadi 1,2 Ton Bubur Organik per Hari

Metro TV • 9 September 2026 15:22

Jakarta: Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R (Reuse, Reduce, Recycle) Hankam Palmerah, Jakarta Barat, mengatasi persoalan sampah dengan mengolahnya sebagai bubur organik untuk pakan ternak. Dalam satu hari, mesin pencacah dapat menghasilkan hingga 1,2 ton bubur per hari atau 15 drum berkapasitas 80 kg.

“Sehari sih kalau maksimal sih 15 drum ya. Jadi 15 dikali (tiap drum kapasitas) 80 kilo,” kata Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Lingkungan Hidup (LH) Kecamatan Palmerah, Erfan Zahri, saat ditemui Metrotvnews.com, Rabu, 9 September 2026.

Bubur organik ini dikirim ke Cianjur dan dimanfaatkan kembali. Yakni, sebagai pakan ternak seperti ayam dan bebek.

“Bubur itu kita kirim ke Cianjur. Di sana ada proses buat ternak ya kayaknya. Kalau enggak salah buat menyuplai makanan ternak, jadi ada ayam, bebek di sana,” ujar Erfan.

Erfan menyebut bubur organik yang dihasilkan sebenarnya bisa jauh lebih banyak, mengingat kapasitas mesin yang bisa menghasilkan hingga 1 ton per jam. Namun, kendala terdapat pada kapasitas wadah dan tempat di TPS 3R Hankam Palmerah yang terbatas.

“Kalau ini sih dari spek mesinnya 1 jam bisa 1 ton. Nah tapi kalau kayak gini (penuh) nih, saya kan enggak bisa naruh lagi kan. Karena wadahnya udah habis. Kalau saya mau coba pakai karung, kan bau lagi kan,” ungkap Erfan.

Alat pencacah sampah menjadi bubur organik. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Kini pihaknya membutuhkan lebih banyak wadah untuk menampung sampah organik yang akan diolah dan telah diolah untuk siap dikirim ke Cianjur. Terlebih, sampah organik terus berdatangan dari 61 RW di Kecamatan Palmerah ke TPS ini.

“Butuh wadah yang harus bisa dikirim ke Cianjur. Dan butuh wadah lagi untuk standby di sini, karena sampah organiknya kan datang terus gitu. Itu tantangan utamanya,” papar Erfan.

Di sisi lain, masih banyaknya warga yang belum memilah sampah secara mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola. Padahal, anjuran pemilahan sampah ini sudah tertuang di Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

“Belum semuanya (sampah yang masuk) terpilah, tapi secara bertahap kita (dorong). Secara (menurut) Inggub kita tetap menganjurkan (masyarakat) untuk memilah (sampah) gitu kan, walaupun kenyataannya ada warga yang sudah memilah kan tetap (tercampur) dalam gerobak,” tutur Erfan.

Maka dari itu, dia berharap masyarakat di tingkat rumah tangga kompak untuk mulai memilah sampah. Hal tersebut bertujuan agar pengelolaan sampah lebih efektif dan efisien.

“Memang di sini dibutuhkan peran peran aktif dari warga untuk memilah secara utuh gitu ya. Pertama untuk sampah organik, sehingga ketika sampah sudah terpilah, proses pengolahannya lebih mudah dilakukan,” kata Erfan.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)