Perang Iran Ganggu Pasokan, AS Izinkan Negara-Negara untuk Beli Minyak Rusia

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Perang Iran Ganggu Pasokan, AS Izinkan Negara-Negara untuk Beli Minyak Rusia

Eko Nordiansyah • 13 March 2026 09:03

Washington: Departemen Keuangan AS pada Kamis malam, 12 Maret 2026 mengeluarkan izin 30 hari yang memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak dan barang-barang minyak Rusia yang saat ini berada di laut. Keputusan ini bertujuan untuk menstabilkan pasar energi global yang terguncang oleh perang Iran.

Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS (Office of Foreign Assets Control/OFAC) menyatakan dalam sebuah pemberitahuan bahwa negara-negara dapat membeli minyak dan produk minyak bumi Rusia yang telah dikirim ke laut sebelum 12 Maret, dengan pemberitahuan tersebut berlaku hingga 11 April. 

“Langkah ini bertujuan untuk mempromosikan stabilitas di pasar energi global dan untuk menjaga harga tetap rendah saat kita mengatasi ancaman dan ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh rezim teroris Iran,” kata Menteri Keuangan Scott Bessent dikutip dari Investing.com, Jumat, 13 Maret 2026.

Washington sebelumnya pada minggu ini telah melonggarkan beberapa pembatasan pada minyak Rusia, terutama untuk importir utama seperti India, untuk membantu mengimbangi dampak perang Iran.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Penutupan Selat Hormuz ganggu pasokan

Langkah AS ini terjadi di tengah meningkatnya permusuhan dalam perang AS-Israel dengan Iran, yang menyebabkan beberapa serangan terhadap kapal tanker dan gangguan pelabuhan di dan sekitar Teluk Persia.

Yang terpenting adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Iran terlihat menyerang kapal-kapal internasional di sekitar selat tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, juga mengatakan pada hari Kamis bahwa Teheran akan tetap menutup selat tersebut sebagai alat tawar-menawar terhadap AS dan Israel.

Harga minyak melonjak setelah perkembangan tersebut, dengan Brent melampaui USD100 per barel untuk kedua kalinya minggu ini. Namun harga turun setelah pengumuman Departemen Keuangan AS.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)