Cerita IRPS Merawat Jejak Sejarah Kereta Api

Lokomotif CC2061325 di Balai Yasa Yogyakarta. Foto: Instagram @rickivanhouten.

Cerita IRPS Merawat Jejak Sejarah Kereta Api

Metro TV • 23 September 2026 23:34

Jakarta: Di tengah pesatnya modernisasi perkeretaapian Indonesia, merawat sejarah lampau si roda besi justru menjadi panggilan jiwa bagi sejumlah orang. Misi ini konsisten dijalankan oleh komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

IRPS meyakini kecintaan terhadap kereta api tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjangnya. Pemahaman ini yang coba ditularkan kepada masyarakat.

"Tugas kita dari komunitas itu membuat teman-teman atau masyarakat cinta dengan kereta api. Cinta ya mulai dari sejarahnya, karena dari dulu sampai sekarang, memang kereta api itu sangat dibutuhkan masyarakat," kata Ketua IRPS, Ricki Dwi Agusti kepada Metrotvnews.com, Rabu, 23 September 2026.

Salah satu upaya IRPS yaitu menginisiasi skema pewarnaan ulang livery (corak) lokomotif lawas ke lokomotif terbaru milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Diharapkan dengan adanya sentuhan warna ikonik era lampau, mampu menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat.

Ricki mencontohkan corak klasik yang dimaksud yaitu, livery era Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dan Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka). Kedua era tersebut memiliki desain khas perkeretaapian sebelum tahun 2000-an.

“Livery under 2000 itu lalu diterapkan di lokomotif modern yang punya KAI yang sekarang,” ujar Ricki. 

Selain itu, IRPS juga rutin menyusuri jalur-jalur mati perkeretaapian di berbagai daerah. Selain mempelajari nilai sejarahnya, kegiatan napak tilas ini diharapkan dapat mendorong potensi reaktivasi jalur agar bisa kembali melayani warga.

"Napak tilas itu sebenarnya kan selain apa ya, mengenang jalur ini dulu pernah dipakai aktif. Itu juga harapan kita dengan kegiatan napak tilas itu bisa terus terekspos dan bisa sampai ke pihak berwenang ya untuk menghidupkan jalur itu gitu," kata Ricki.


Ketua IRPS, Ricki Dwi Agusti. Foto: Instagram @rickivanhouten.

Gerakan melestarikan sejarah ini bermula pada 2001. Kala itu, ada sekelompok orang yang ingin melestarikan lokomotif CC200, yakni lokomotif diesel pertama milik Djawatan Kereta Api (DKA).

Upaya itu berbuah manis hingga salah satu lokomotif legendaris CC200 berhasil diperbaiki dan beroperasi kembali. Kini, jejak perjuangan IRPS terus meluas dengan jaringan anggota yang tersebar di Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, hingga berbagai kota lainnya.

(Afifah Alfina)

(Gabriella Thesa Widiari)