Rupiah Naik Lagi, Dibuka ke Rp17.135 per USD

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Naik Lagi, Dibuka ke Rp17.135 per USD

Eko Nordiansyah • 21 April 2026 09:15

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Kembali mengalami penguatan. Rupiah menguat saat dolar AS tertekan banyaknya ketidakpastian.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 21 April 2026, rupiah berada di level Rp17.135 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 33 poin atau setara 0,19 persen dari Rp17.168 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.184 per USD. Rupiah terpantau masih stagnan seperti pembukaan perdagangan kemarin.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Gerak rupiah masih fluktuatif

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif cenderung melemah pada perdagangan Selasa, 21 April 2026. Mata uang rupiah akan bergerak direntang Rp17.160- Rp17.200 per USD.

Ibrahim mengatakan Selat Hormuz kembali ditutup setelah AS dan Iran sama-sama mengklaim ada pihak lain yang melanggar kesepakatan gencatan senjata. AS telah mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran telah mencabut dan memberlakukan kembali blokade Selat Hormuz.

Ibrahim menyebut sebagian pasar kini diselimuti kekhawatiran setelah harga minyak melonjak hingga tujuh persen. Selain itu, lanjut dia, ketegangan baru ini juga membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS tahun ini telah bergeser secara signifikan ke arah sikap lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama.

"Sebagai akibat dari inflasi yang masih tinggi akibat tingginya harga energi dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah," ungkapnya.

Dari dalam negeri, penguatan rupiah berbarengan dengan peringatan dari International Monetary Fund (IMF) agar pemerintah tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Peringatan itu muncul sejalan dengan adanya risiko resesi jika perang terus berlanjut dan menekan harga bahan bakar minyak.

"IMF pun melihat tidak adanya solusi yang jelas untuk mengatasi permasalahan ini. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas energi penting di Timur Tengah meningkatkan prospek krisis energi besar, jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan," kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)