Nurliana Sihombing (61), warga di Jalan H. Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, mengeluhkan krisis air bersih, Selasa (14/4/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi
Warga Cengkareng Kembali Keluhkan Kesulitan Air Bersih
Siti Yona Hukmana • 14 April 2026 20:21
Jakarta: Sejumlah warga di Jalan H. Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, kembali mengeluhkan kesulitan air bersih di wilayahnya. Salah seorang warga, Nurliana Sihombing, 61, mengaku kesulitan air bersih dirasakan sejak pertama kali berlangganan air PAM, sekitar 25 tahun lalu.
"Ya enggak belakangan (terjadi krisis air bersih), dari dulu. Kita pertama kali pasang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got," kata Nurliana dilansir Antara, Selasa, 14 April 206.
Wanita paruh baya yang sudah menetap di kawasan tersebut selama lebih dari 30 tahun itu pun kadang bingung, lantaran aliran air kembali normal dan bersih setiap tengah malam. "Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar pukul 01.00 WIB hingga sampai pukul 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," ujar Nurliana.
Baca Juga :
Polres Jakut Minta Warga Laporkan Aksi Kejahatan
"Iya, kita bangun jam dua, jam tiga malam gitu buat ngisi air. Jadi kita sudah punya penampungan kayak ember berapa biji gitu. Terpaksa, habis kalau enggak begitu, enggak punya air bersih," kata Nurliana.
Jika stok air bersih kurang pada siang hari, ia terpaksa menunda mandi atau hanya mandi sekali sehari. Padahal, ia merasa tak pernah telat membayar tagihan setiap bulannya sebesar Rp50 ribu.
"Masalahnya tuh sebenarnya enggak bayar itu doang, tapi kan bayar listrik juga. Karena air di sini enggak bisa ngalir kalau enggak pakai mesin pompa, jadi nambah lagi tagihan listriknya," ujar Nurliana.
Kini, ia pasrah dan berharap ada perbaikan infrastruktur secara menyeluruh, bukan sekadar perbaikan sementara yang tak pernah benar-benar menyelesaikan masalah utamanya. "Ya mudah-mudahan PAM itu dibenarin lah di mana. Maksudnya, anehnya kan kenapa kayak ada waktu-waktunya gitu lho nyalanya, padahal kita kan pakainya bayar, di situ saja kita heran," ungkap Nurliana.

Ilustrasi. Foto: Freepik.
Sementara itu, Ketua RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Eka mengatakan, masalah air PAM memang sudah berlangsung selama puluhan tahun di wilayahnya. Bahkan, sebagian warga memutuskan kembali melakukan pengeboran untuk beralih menggunakan air tanah, meski kualitasnya tak sebaik air PAM saat normal.
Ia mengaku pernah terpaksa membuang air yang tak sengaja tercampur oleh air kotor ketika menampung air. "Pas hidupin air PAM, dapat seember dua ember bagus kan airnya. Namun, setelah ditampung lagi tahu-tahu airnya sudah tercampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu," kata Eka.
Eka juga mengaku pernah mengalami kerugian besar, karena sudah terlanjur menampung air di toren berkapasitas 500 liter di lantai empat rumahnya pada malam hari. Air yang sudah tertampung banyak tiba-tiba disusupi air hitam. "Itu tengah malam buka kran biar nampung di toren, eh pas dibuka, Ya Allah kok hitam, bau got. Mana hampir penuh itu, tingginya seleher saya, masa mau dikuras, gimana? Padahal udah kehitung di meteran itu airnya," ujar Eka.
Setelah mengalami kejadian tersebut, Eka memutus sambungan air PAM di rumahnya dan merogoh kocek lebih untuk beralih ke air tanah. Dia menjelaskan warga sebenarnya sudah sering protes dan melaporkan hal ini kepada petugas yang mengecek meteran. Bahkan, saat petugas datang, air seringkali dalam keadaan hitam dan berbau.
"Ditanya kenapa alasannya, 'Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana' begitu jawabannya. Tapi, sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor)," ungkap
Bahkan, terkadang petugas datang saat kebetulan air mengalir bening. Namun, keesokan harinya air kembali hitam pekat dan bau got.