Harga Emas Naik 3%, Curi Momentum saat Harga Minyak dan Dolar AS Ambruk

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com

Harga Emas Naik 3%, Curi Momentum saat Harga Minyak dan Dolar AS Ambruk

Husen Miftahudin • 7 May 2026 08:38

Chicago: Harga emas melonjak pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena indikasi baru Amerika Serikat (AS) dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai yang menekan harga minyak dan dolar. Kondisi ini meningkatkan daya tarik bagi logam mulia tersebut.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 7 Mei 2026, harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini naik sebanyak tiga persen menjadi USD4.694,40 per troy ons (satuan ukuran logam mulia global yang setara dengan 31,10 gram).
 
Sementara harga emas berjangka sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, juga mengalami kenaikan sebesar tiga persen menjadi USD4.705,50 per troy ons.
 

Baca juga: Didorong Sentimen Global, Harga Emas Bakal Naik Jadi Segini


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

AS-Iran hampir capai kesepakatan perdamaian

 
Axios melaporkan, Gedung Putih hampir mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri perang. Laporan tersebut mengatakan, dokumen itu akan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi nuklir yang lebih rinci.
 
Washington memperkirakan Teheran akan memberikan tanggapan pada beberapa poin utama dalam 48 jam ke depan, menurut laporan tersebut.
 
Kesepakatan potensial akan membuat Iran berkomitmen untuk moratorium pengayaan nuklir, sementara AS akan setuju untuk mencabut sanksi dan melepaskan miliaran dolar dana Iran yang saat ini dibekukan. Pembatasan di Selat Hormuz juga akan dicabut untuk memungkinkan kembali transit melalui jalur sempit tersebut.
 
Wall Street Journal juga melaporkan proposal satu halaman tersebut, menambahkan bahwa itu adalah rencana 14 poin dan akan memberikan waktu satu bulan untuk pembicaraan guna mengakhiri perang, mengutip sumber.
 
Dengan latar belakang ini, harga minyak anjlok dengan harga minyak mentah Brent berjangka sempat turun di bawah USD100 per barel, meskipun kontrak tersebut tetap jauh di atas level sebelum perang.
 
Sementara itu, dolar AS juga jatuh. Dolar AS telah menjadi aset yang relatif aman selama perang Iran, dengan para pedagang memandang ekonomi Amerika, sebagai pengekspor minyak utama, sebagai kemungkinan kebal terhadap guncangan energi yang disebabkan oleh konflik tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)