Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rabu Pagi, Rupiah Dibuka di Rp16.763 per USD
Eko Nordiansyah • 4 February 2026 09:11
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tak mampu menjaga tren penguatan atas dolar AS sejak kemarin.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 4 Februari 2026, rupiah berada di level Rp16.763 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp16.754 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.795 per USD. Mata uang Garuda justru bergerak datar dibandingkan pada perdagangan sebelumnya.
Rupiah diprediksi fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan melemah. Mata uang Garuda diprediksi bergerak di rentang Rp16.750 per USD hingga Rp16.780 per USD.Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Iran 'serius berbicara' dengan Washington, dan diperkirakan akan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat di Turki. Trump memperingatkan dengan kapal perang besar AS yang menuju Iran, hal-hal buruk dapat terjadi jika kesepakatan tidak tercapai.
Di bidang perdagangan, Trump mengumumkan kesepakatan dengan India yang memangkas tarif AS atas barang-barang India menjadi 18 persen dari 50 persen sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India dan penurunan hambatan perdagangan.
Trump mengumumkan kesepakatan itu di media sosial setelah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, dan mencatat India telah setuju untuk membeli minyak dari AS dan mungkin juga Venezuela.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya. Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar.
"Warsh sebagian besar mendukung tuntutan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah. Tetapi ia juga mengkritik aktivitas pembelian aset Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil yang dapat membuat kebijakan moneter tetap relatif ketat dalam beberapa tahun mendatang," jelas Ibrahim.
Di sisi lain, S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026. Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025.
"Kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50. Kenaikan itu didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru," papar Ibrahim.
.jpeg)