40 Truk Dikerahkan untuk Angkut 5.000 Ton Sampah Pasar Induk Kramat Jati

Truk mengangkut sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Foto: ANTARA/HO-DLH DKI Jakarta.

40 Truk Dikerahkan untuk Angkut 5.000 Ton Sampah Pasar Induk Kramat Jati

Fachri Audhia Hafiez • 2 April 2026 23:03

Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengerahkan 40 armada truk secara bertahap untuk mengangkut tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Langkah darurat ini diambil menyusul adanya kendala pengangkutan selama 18 hari akibat peristiwa longsor di TPST Bantargebang yang menghambat alur pembuangan.

"Pada tahap awal, 20 truk telah mulai beroperasi sementara sisanya akan ditambahkan bertahap," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 2 April 2026.
 


Asep menjelaskan bahwa volume sampah yang menumpuk di pasar induk tersebut diperkirakan telah mencapai 5.000 ton. Untuk mempercepat proses evakuasi sampah, DLH DKI Jakarta menargetkan seluruh tumpukan tersebut dapat dibersihkan dalam waktu sepekan hingga sepuluh hari ke depan dengan sistem pembagian sif yang ketat.

“Penambahan armada ini diharapkan dapat mempercepat pengangkutan. Kami menargetkan penanganan dapat tuntas dalam enam sampai 10 hari ke depan,” ujar Asep.

Selain penanganan jangka pendek, Pemprov DKI juga tengah mengkaji penyesuaian tarif retribusi pengolahan sampah yang ditargetkan rampung dalam dua minggu. Opsi yang disiapkan mencakup penurunan tarif atau pemberian keringanan maksimal bagi pengelola. 

Di sisi lain, sistem antrean di TPST Bantargebang turut diatur agar integrasi truk berjalan efisien tanpa memicu kepadatan baru.


Tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Dok. Antara.

Pemprov DKI turut mendorong Perumda Pasar Jaya untuk mulai mengelola sampah secara mandiri, mengingat timbulan sampah pasar mencapai 500 ton per hari yang didominasi material organik. Berbagai opsi teknologi kini tengah dijajaki, termasuk potensi kerja sama dengan Danantara untuk penerapan sistem pengolahan berbasis teknologi modern.

“Penanganan sampah tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pengelola kawasan, termasuk pasar, untuk menjalankan pemilahan sampah secara konsisten. Ini penting agar fasilitas pengolahan seperti RDF dan ITF/PSEL dapat bekerja lebih optimal ke depan,” kata Asep.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)