The 27th IAF International Seminar: AI Ubah Peran Akuntan, Tak Lagi Sekadar Hitung Angka

The 27th Indonesia Accounting Fair International Seminar diinisiasi oleh mahasiswa Akuntansi FEB UI (Foto:Dok.FEB UI)

The 27th IAF International Seminar: AI Ubah Peran Akuntan, Tak Lagi Sekadar Hitung Angka

Rosa Anggreati • 23 February 2026 12:54

Jakarta: Riuh tepuk tangan menggema di Balai Serbaguna Purnomo Prawiro, FISIP UI, Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026. Hari itu, rangkaian The 27th Indonesia Accounting Fair International Seminar resmi ditutup setelah menghadirkan diskusi strategis tentang masa depan profesi akuntansi. 

Forum ini merupakan bagian dari Indonesia Accounting Fair (IAF), sebuah inisiatif prestisius berskala internasional yang dipelopori mahasiswa Akuntansi FEB UI, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang temu antara gagasan akademik dengan realitas industri global.

IAF tahun ini tak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Sejak pra-acara hingga hari puncak, atmosfer kolaboratif terasa kuat melalui berbagai kegiatan unggulan seperti Pre-Event Talk Show, Training and Company Visit, hingga kompetisi akuntansi dan business case. Seluruh rangkaian tersebut dirancang untuk memperluas cakrawala peserta, bukan hanya aspek teknis, tetapi juga dalam membangun jejaring dan sensitivitas terhadap transformasi global yang terus bergerak dinamis.

Puncaknya adalah International Seminar yang mengusung tema Beyond Digital Precision: Advancing Market Agility Through Accounting Insights. Tema ini dielaborasi dalam dua sesi diskusi strategis yang mengupas evolusi peran akuntan di tengah disrupsi teknologi. 
 


Sejak sesi pertama dimulai, para pembicara menggarisbawahi urgensi transformasi fungsi akuntansi, dari sekadar unit operasional menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis. Diskusi kemudian berlanjut pada aspek aplikatif, menyoroti implementasi akuntansi digital, integrasi sistem, hingga tantangan keberlanjutan dan keamanan siber dalam ekosistem bisnis modern.

Melalui paparan lintas perspektif mulai dari profesional, regulator, hingga praktisi teknologi, seminar ini menghadirkan gambaran utuh tentang bagaimana presisi teknologi dan kearifan manusia harus berjalan beriringan. Pada penghujung acara, satu pesan mengemuka dengan jelas: masa depan akuntansi bukan hanya soal angka, melainkan tentang kemampuan membaca data menjadi wawasan strategis yang bernilai bagi organisasi di tengah volatilitas pasar global.

Sesi pertama berfokus pada transformasi profesi di era disrupsi, yang mencakup pembahasan mengenai peran strategis akuntan dalam menavigasi otomasi dan integrasi sistem, sinergi antara pertimbangan subjektif manusia dengan konsistensi kecerdasan buatan (AI) guna mempercepat kelincahan pasar, serta tinjauan komprehensif dari perspektif profesional, regulasi, dan etika terhadap implementasi teknologi dalam akuntansi.

Agenda seminar diakhiri dengan sesi kedua yang menitikberatkan pada aspek aplikatif dalam ekosistem keuangan modern. Diskusi pada sesi ini mengulas optimalisasi pemanfaatan teknologi untuk memperkuat fungsi keuangan dan akuntansi, strategi implementasi akuntansi digital dalam meruntuhkan batasan operasional demi membangun ketangkasan karier di masa depan, hingga penerapan praktis sistem akuntansi digital dalam lingkungan bisnis berskala global.

Eksistensi International Seminar IAF ke-27 sebagai forum akuntansi bergengsi diperkuat dengan kehadiran jajaran pembicara lintas industri yang memiliki reputasi global. Para pakar dan praktisi terkemuka tersebut turut berkontribusi dalam berbagai sesi, mulai dari penyampaian Opening Remarks, Keynote Speech, hingga Moderated Sessions.

Sejumlah tokoh profesional hadir untuk mengelaborasi wawasan mereka dalam agenda ini, yaitu:
  • Sandiaga Uno (Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia)
  • Sumit Popli (Partner pada McKinsey & Company)
  • Didi Laksana (Director of SAP pada KPMG)
  • Sylvanus Gani Mendrofa (Chief Financial Officer pada Adira Finance)
  • Tomi Parisianto Wibowo (Associate Partner pada Parker Russell Indonesia)
  • Deni Poerhadiyanto (Anggota Dewan Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia)
  • Faransyah Agung Jaya (CEO One Integra Ventures)
  • Ponco Widagdo (Director of Assurance pada PwC Indonesia)
  • Hengky Jaya (Certified Accounting Specialist)
  • Umarudin Zaenuri (Founder/Tech Advisor pada PT Reka Karya Teknologi)
  • Evy Yulianti (Services Account Executive pada Microsoft Indonesia)

Kehadiran para pembicara dari berbagai institusi kelas dunia tersebut menegaskan komitmen IAF dalam menjembatani dialog antara kebijakan strategis, standar profesional, dan implementasi teknologi terkini di industri keuangan.


(Foto:Dok.FEB UI)
 

Eksplorasi Strategis: Evolusi Peran Akuntan pada Era Digital


Sumit Popli dari McKinsey & Company menyoroti dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh akselerasi AI dan transformasi tenaga kerja. Di tengah volatilitas ekonomi dan ketidakstabilan geopolitik yang menjadi kekhawatiran utama para CFO, fungsi keuangan dituntut untuk berevolusi menjadi mitra bisnis dan pengelola nilai (value managers). 

"Keberhasilan masa depan bergantung pada penguasaan teknologi digital serta kemampuan menghasilkan wawasan finansial yang mendorong dampak bisnis secara nyata," ucap Sumit Popli. 

Melengkapi perspektif tersebut, sesi pertama International Seminar IAF ke-27 dibuka dengan pembahasan mendalam mengenai urgensi transformasi fungsi akuntansi dari sekadar operasional menjadi strategis. 

Tomi Parisianto Wibowo menekankan bahwa saat ini banyak korporasi masih menempatkan akuntansi sebagai unit back-office yang terhambat oleh proses manual dan fragmentasi data. 

"Adopsi otomasi dan integrasi sistem bukan sekadar masalah efisiensi, melainkan sebuah perubahan fundamental yang membebaskan akuntan untuk fokus pada analisis berbasis wawasan dan dukungan keputusan proaktif," kata Tomi Parisianto Wibowo.
   

Implementasi dan Adaptabilitas dalam Ekosistem Bisnis Nyata


Pada sesi kedua, pembahasan beralih ke aspek praktis dan tantangan implementasi teknologi di lapangan. Ponco Widagdo dari PwC Indonesia memberikan peringatan strategis bahwa sekitar 70 persen upaya transformasi digital menemui kegagalan apabila hanya berfokus pada aspek teknis semata. Kesuksesan integrasi akuntansi digital memerlukan sinergi antara pola pikir SDM, standardisasi proses, integritas data, dan penguatan pengendalian internal.

Selaras dengan hal tersebut, Hengky Jaya menguraikan bagaimana akuntansi digital mampu meruntuhkan hambatan antar-departemen melalui sistem yang saling terhubung atau single source of truth. 

"Dalam model ini, akuntan berperan sebagai interpreter data yang mampu menganalisis profitabilitas secara real-time," tutur Hengky Jaya. 

Sebagai penutup, Umarudin Zaenuri memaparkan tantangan kontemporer seperti kompleksitas pelaporan keberlanjutan (ESG) dan ancaman keamanan siber berbasis AI. 

"Sangat penting peta jalan (roadmap) transformasi yang terukur serta manajemen perubahan yang efektif untuk menghindari kegagalan dalam adopsi teknologi," ucap Umarudin Zaenuri.

Melalui pemaparan komprehensif dari para pakar tersebut, International Seminar IAF ke-27 berhasil menegaskan visi bahwa akuntansi masa depan adalah perpaduan antara presisi teknologi dan kearifan profesional manusia dalam menciptakan nilai strategis bagi organisasi.


(Foto:Dok.FEB UI)
 

Kesimpulan: Menavigasi Masa Depan Akuntansi Strategis


Secara keseluruhan, gelaran International Seminar dalam Indonesia Accounting Fair (IAF) ke-27 menyimpulkan bahwa evolusi profesi akuntansi kini telah bergeser secara fundamental dari sekadar fungsi administratif menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis. Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) bukan bertujuan untuk menggantikan peran manusia, melainkan sebagai instrumen cerdas yang memperkuat kapasitas akuntan dalam menghasilkan wawasan finansial yang proaktif dan interpretatif. 

Dengan mengintegrasikan keunggulan teknologi dan pertimbangan profesional, fungsi akuntansi diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan serta memperkuat resiliensi organisasi di tengah volatilitas pasar global.

Penyelenggaraan Indonesia Accounting Fair ke-27 tahun ini kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ajang akuntansi internasional paling prestisius yang diinisiasi oleh mahasiswa akuntansi di Indonesia. Keberhasilan forum ini dalam mempertemukan perspektif teoretis dari akademisi dengan realitas praktis dari para pemimpin industri global mencerminkan standar kualitas dan dedikasi tinggi dari mahasiswa Akuntansi Universitas Indonesia. Melalui dialog strategis yang inklusif ini, IAF ke-27 tidak hanya menjadi wadah pengembangan kompetensi, tetapi juga motor penggerak bagi terciptanya generasi profesional yang tangkas, adaptif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)