The 25th ATV International Audit Seminar Bahas Transformasi Peran Auditor di Era Digital

The 25th ATV International Audit Seminar menghadirkan regulator, praktisi, dan akademisi untuk membahas AI, tata kelola digital, dan penguatan ICoFR. (Foto: Dok. Ist)

The 25th ATV International Audit Seminar Bahas Transformasi Peran Auditor di Era Digital

Patrick Pinaria • 20 February 2026 16:04

Depok: Percepatan digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mendorong profesi auditor untuk beradaptasi. Isu tersebut menjadi sorotan dalam The 25th ATV International Audit Seminar yang digelar pada 18 Februari 2026.

Digelar di Auditorium Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, serta disiarkan secara daring melalui Zoom, The 25th ATV International Audit Seminar mengusung tema 'Adapting Audit Roles and Responses in the Digital Era: From Digital Tools to Strengthened Controls'. Seminar ini mempertemukan regulator, praktisi audit, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas perubahan peran auditor di tengah perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), data analytics, automation, dan blockchain.

Acara tersebut mendapat sambutan yang begitu antisias. Buktinya, lebih dari 1.000 peserta mengikuti kegiatan secara daring dan sekitar 300 peserta hadir langsung di lokasi acara tersebut.

Acara dibuka dengan sambutan dari sejumlah tokoh, di antaranya mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Salahuddin Uno, serta Ikatan Akuntan Indonesia yang diwakili anggota dewan nasionalnya.

Dalam sambutan pembuka, para pembicara menekankan pentingnya tata kelola digital yang adaptif, pengawasan yang kuat, serta kolaborasi lintas sektor guna menjaga integritas audit dan kepercayaan publik di tengah transformasi ekosistem bisnis.

Keynote pertama disampaikan Tiffany Tan, Audit and Assurance Lead CPA Australia, dengan topik 'Reframing Audit Responsibilities in the Digital Disruption Era'.

Ia memperkenalkan konsep '3R', Redefine Roles, Reassess Risks, and Respond to Change, sebagai kerangka bagi auditor menghadapi era digital. Menurutnya, auditor kini tidak lagi sebatas memeriksa laporan keuangan, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan menghasilkan value-added insights.

Tiffany menekankan bahwa pemanfaatan AI harus tetap menjaga prinsip independensi, transparansi, professional judgement, dan human oversight. Ia juga mendorong auditor untuk membangun literasi digital dan pola pikir lifelong learning agar mampu bertransformasi secara berkelanjutan.
 


Keynote kedua disampaikan Sophia Isabella Wattimena, Ketua Dewan Audit sekaligus Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam sesi bertajuk 'Building Regulatory Resilience: Reinforcing Audit Governance in Indonesia’s Digital Financial Ecosystem'.

Ia menyoroti bahwa transformasi digital membuka peluang transparansi dan efisiensi, tetapi juga memunculkan risiko baru seperti ancaman siber, lemahnya pengelolaan fraud, serta kompleksitas penerapan AI dan data analytics.

Menurut Sophia, sektor jasa keuangan perlu memperkuat tata kelola, manajemen risiko, dan business continuity management. OJK, lanjutnya, telah merespons melalui penguatan regulasi tata kelola teknologi informasi, pengembangan OJK Infinity 2.0 dan Regulatory Sandbox, serta pemanfaatan teknologi pengawasan (suptech).

Panel Session 1 bertajuk Strategic Utilization of Emerging Audit Technologies dimoderatori Lis Suryani, VP of Prudential Indonesia. Narasumber yang hadir adalah Handrow Cahyadi, Partner dan Head of Financial Services & IT Audit and Assurances KPMG Indonesia, serta Juan Ramon Siahaan, Audit Partner KAP Liana Ramon Xenia & Rekan.

Dalam paparannya bertajuk 'Audit in the AI Era: Harnessing Insight, Preserving Skepticism', Handrow Cahyadi menjelaskan bahwa AI, automation, RPA, dan data analytics telah mendorong transisi peran auditor.

Saat ini, AI berperan sebagai copilot untuk meningkatkan efisiensi kerja. Ke depan, teknologi diproyeksikan berkembang menjadi sistem multi-agent AI yang mampu menjalankan prosedur audit secara end-to-end. Meski demikian, ia menegaskan bahwa professional skepticism dan human judgement tetap menjadi elemen tak tergantikan dalam menjaga kepercayaan terhadap audit.

Juan Ramon Siahaan dalam sesi 'Empowering Innovation of AI in Audit' menekankan bahwa AI tidak menggantikan auditor, melainkan memperkuat efektivitas proses audit.

Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan pada setiap tahap audit, mulai dari perencanaan (penentuan materialitas dan pengolahan data klien), risk assessment, substantive testing, hingga reporting and insights. Namun, tanggung jawab dan professional judgement auditor tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas assurance.
 
Panel Session 2 mengangkat tema Enhancing Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) in the Digital Context. Sesi ini dimoderatori Lis Suryani dan menghadirkan Yosef Noerman (Head of Internal Audit PT Mulia Industrindo Tbk), Antonius Gunadi (Chief Audit Executive PT Bank CIMB Niaga Tbk), serta Dianto Lie (Head of Internal Audit SPayLater Indonesia).

Yosef Noerman menjelaskan bahwa di sektor manufaktur, digitalisasi telah mengubah sistem ICoFR dari berbasis dokumen manual menjadi otomatis dan real-time.

Perubahan ini memunculkan risiko baru seperti kesalahan konfigurasi ERP, kelemahan IT General Controls, pengelolaan master data yang tidak terkendali, serta potensi management override melalui lemahnya pengaturan akses. Ia menekankan pentingnya tata kelola internal yang kuat, sistem ERP terintegrasi, segregasi tugas yang jelas, dan monitoring berkelanjutan.


The 25th ATV International Audit Seminar menghadirkan regulator, praktisi, dan akademisi untuk membahas AI, tata kelola digital, dan penguatan ICoFR. (Foto: Dok. Ist)

Antonius Gunadi menjelaskan bahwa risiko di perbankan modern tidak lagi terpusat pada kesalahan transaksi semata, tetapi juga pada penyalahgunaan fitur digital, konfigurasi sistem, hingga anomali pola transaksi.

Ia mencontohkan kasus celah sistem poin reward yang pernah terjadi di CIMB Niaga pada 2022, di mana poin tetap diterima meski transaksi dibatalkan. Dengan pemanfaatan data analytics dalam sistem ICoFR, auditor internal dapat memantau jutaan transaksi, mengidentifikasi anomali, serta memberikan insight bagi manajemen untuk memperbaiki desain pengendalian.

Dianto Lie menjelaskan bahwa implementasi ICoFR di perusahaan fintech memiliki kompleksitas lebih tinggi karena struktur bisnis yang sangat digital-sentris dan volume transaksi besar.

Model bisnis seperti e-wallet, P2P lending, digital banking, dan buy now pay later menciptakan proses yang sangat terotomatisasi. Risiko kesalahan sistem, kelemahan ITGC, serta ancaman keamanan siber dapat berdampak signifikan terhadap keandalan laporan keuangan. Karena itu, penguatan segregasi tugas, manajemen akses sistem, change management, serta mekanisme backup dan recovery menjadi fondasi utama pengendalian berkelanjutan.

Selain diskusi, seminar ini juga memberikan sertifikat elektronik, SKP bagi mahasiswa FEB UI, sesi interaktif, serta kesempatan jejaring profesional.

Keberhasilan penyelenggaraan seminar ke-25 ini menegaskan posisi ATV FEB UI sebagai platform diskusi audit yang progresif dan relevan. Transformasi digital, khususnya pemanfaatan AI, dinilai harus diimbangi dengan inovasi, integritas, dan ketahanan tata kelola guna menjaga kepercayaan publik terhadap profesi audit di tengah dinamika bisnis yang terus berkembang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)