Salah satu mesin pemeriksaan surat setoran buatan tahun 1980 yang berada di Museum Perbendaharaan Bandung. (Metrotvnews.com/Roni K)
Museum Perbendaharaan Ajak Warga Pahami Kelola APBN
Roni Kurniawan • 27 October 2026 18:33
Bandung: Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar urusan birokrasi pemerintahan. Masyarakat dituntut turut memahami bagaimana uang negara disalurkan dan dipertanggungjawabkan. Hal inilah yang ingin diperkenalkan Museum Perbendaharaan melalui kegiatan edukasi kepada pengunjung.
Edukator Museum Perbendaharaan, Arifiyana, mengatakan, salah satu tantangan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat yaitu menjelaskan mekanisme perbendaharaan negara yang selama ini lebih banyak berkaitan dengan proses kerja antarkantor pemerintah.
"Tantangan utamanya adalah dari sisi substansi materi yang disampaikan. Museum ini pada dasarnya lebih banyak menggambarkan diorama dan proses kerja satuan kerja pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan perbendaharaan negara," ujar Arif di Museum Perbendaharaan, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa, 27 Oktober 2026.
"Kalau menggunakan istilah dalam dunia bisnis, proses kerja kami lebih dekat dengan konsep business to business (B2B), yaitu hubungan antarlembaga atau antarkantor pemerintah. Sementara itu, ketika kami ingin menjelaskannya kepada masyarakat umum, pendekatannya harus disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung yang lebih luas," jelas Arif.
Kondisi tersebut, membuatnya perlu menerjemahkan materi teknis menjadi informasi yang mudah dipahami. Menurut Arifi, pemahaman masyarakat mengenai mekanisme perbendaharaan penting dibangun karena pengelolaan anggaran negara berkaitan erat dengan prinsip akuntabilitas.
"Mengapa hal ini penting? Karena salah satu prinsip APBN adalah akuntabilitas. Artinya, pengelolaan anggaran negara harus dapat dipertanggungjawabkan," kata Arif.

Museum Perbendaharaan Kota Bandung. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan
Guna menjembatani materi teknis dengan pemahaman pengunjung, Arif menggunakan pendekatan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan menjelaskan tugas bendahara yang mungkin pernah dikenal masyarakat melalui pengalaman di sekolah, organisasi, kelompok sosial, maupun lingkungan rumah.
"Pendekatan sederhana yang kami gunakan adalah menyampaikan materi dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami masyarakat," tutur Arif.
Menurut Arif, penjelasan dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana mengenai tugas dan tanggung jawab seorang bendahara. Setelah pengunjung memahami gambaran dasarnya, edukator kemudian menghubungkan peran tersebut dengan mekanisme pengelolaan serta pelaksanaan anggaran di lingkungan pemerintahan.
"Misalnya, kami memulai dengan pertanyaan, seorang bendahara itu sebenarnya memiliki tugas apa saja? Dari situ, kami menjelaskan fungsi dan tanggung jawab bendahara, kemudian menghubungkannya dengan mekanisme pengelolaan dan pelaksanaan anggaran di lingkungan pemerintahan," jelas Arif.
Melalui pendekatan tersebut, Museum Perbendaharaan diharapkan dapat memperluas pemahaman publik tentang tata kelola keuangan negara. "Jadi, pendekatannya memang menggunakan bahasa sehari-hari terlebih dahulu agar pengunjung lebih mudah memahami materi," ungkap Arif.