Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: CGTN
Iran Peringatkan AS, Jangan Biarkan Netanyahu Hancurkan Diplomasi Gencatan Senjata
Fajar Nugraha • 10 April 2026 11:50
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) melakukan tindakan bodoh jika membiarkan Israel membahayakan gencatan senjata regional melalui serangan intensif ke Lebanon.
Serangan udara tersebut terus berlanjut dan telah menewaskan ratusan orang tepat setelah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku.
Araghchi menyoroti persidangan kasus korupsi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dijadwalkan berlanjut pada Minggu mendatang. Ia mensinyalir bahwa pemimpin Israel tersebut memiliki motif tersembunyi untuk terus melanjutkan peperangan demi kepentingan pribadi.
"Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat proses pemenjaraannya," tulis Araghchi melalui media sosial, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat, 10 April 2026.
Baca Juga :
Iran: Jari Kami Masih Berada di Pelatuk
"Jika AS berniat menghancurkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu adalah pilihan mereka. Kami pikir itu tindakan bodoh, tetapi kami siap menghadapinya," tegas Araghchi.
Pernyataan Menlu Iran ini merupakan bentuk balasan terhadap retorika Wakil Presiden AS JD Vance yang sebelumnya memperingatkan Iran agar tidak membiarkan gencatan senjata berantakan karena isu Lebanon. Vance menyebut bahwa kegagalan gencatan senjata akibat sikap Iran akan menjadi pilihan yang bodoh.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada Selasa lalu, perbedaan pendapat mengenai apakah kesepakatan itu berlaku untuk Lebanon telah menjadi ancaman utama bagi masa depan perdamaian.
Pejabat dan media Iran mengisyaratkan bahwa Teheran mungkin akan merespons secara militer terhadap serangan Israel di Lebanon atau memblokade Selat Hormuz guna memastikan Lebanon masuk dalam cakupan gencatan senjata.
Pada hari Kamis, Presiden Donald Trump mengaku telah meminta pemerintah Israel untuk mengurangi intensitas operasi militer mereka di Lebanon. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan telah berbicara dengan Netanyahu agar bersikap lebih menahan diri dalam melancarkan serangan.
Senada dengan Trump, JD Vance juga mengeklaim pada hari Rabu bahwa pihak Israel telah setuju untuk sedikit membatasi diri di wilayah Lebanon. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda di mana serangan Israel tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun Lebanon baru saja melewati salah satu hari paling berdarah dalam sejarahnya dengan korban tewas melampaui 300 orang.
Israel meluncurkan beberapa serangan mematikan baru di Lebanon pada Kamis, termasuk serangan yang menewaskan empat petugas penyelamat di kota Borj Qalaouiye, wilayah selatan. Pasukan Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk area Jnah di Beirut, yang merupakan lokasi dua rumah sakit terbesar di negara tersebut serta pemukiman bagi puluhan ribu warga sipil.
Amerika Serikat memiliki rekam jejak dalam mengeklaim bahwa Israel setuju membatasi serangan militer, namun kenyataannya serangan terus berlanjut. Sebagai contoh pada 2024, pemerintahan Joe Biden bersikeras bahwa operasi Israel di Rafah hanya bersifat terbatas, meski pada akhirnya militer Israel menghancurkan hampir seluruh infrastruktur di sana.
Amerika Serikat memiliki rekam jejak dalam mengeklaim bahwa Israel setuju membatasi serangan militer, namun kenyataannya serangan terus berlanjut. Sebagai contoh pada 2024, pemerintahan Joe Biden bersikeras bahwa operasi Israel di Rafah hanya bersifat terbatas, meski pada akhirnya militer Israel menghancurkan hampir seluruh infrastruktur di sana.
Strategi bumi hangus yang terjadi di Rafah kini dikhawatirkan akan direplikasi oleh pejabat Israel di Lebanon Selatan untuk memastikan perpindahan penduduk secara permanen. Konflik di Lebanon sendiri berubah menjadi perang total pada awal Maret setelah Hizbullah menembakkan roket sebagai respons atas serangan Israel dan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Sejak gencatan senjata terpisah pada November 2024, Israel tercatat terus meluncurkan serangan hampir setiap hari ke Lebanon. Serangan-serangan tersebut mencakup pemboman luas terhadap berbagai infrastruktur sipil di wilayah Lebanon.
(Kelvin Yurcel)