Podium Media Indonesia: PISA itu Cermin, bukan Vonis

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. MI/Ebet

Podium Media Indonesia: PISA itu Cermin, bukan Vonis

Achmad Zulfikar Fazli • 14 September 2026 07:51

ADA kebiasaan kita yang agak menggemaskan setiap kali hasil PISA diumumkan. Pertanyaan pertama hampir selalu sama, yakni peringkat Indonesia naik atau turun? Seolah-olah pendidikan nasional ialah klasemen Liga Inggris. Naik dua peringkat, kita bersorak. Turun tiga tingkat, kita murung.

Lalu, menteri dicari, kurikulum dituding, guru diperiksa. Padahal, pendidikan bukan pertandingan sepak bola. Anak-anak kita juga bukan kesebelasan yang setiap tiga atau empat tahun mesti dihitung selisih golnya.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 membawa kabar yang patut disambut dengan optimisme, tetapi tidak dengan pesta kembang api. Ada indikasi perbaikan, tetapi pekerjaan rumah kita masih bertumpuk.

Masalah pertama ialah cara membaca PISA. Rangking bersifat relatif. Indonesia bisa naik boleh jadi bukan semata-mata karena anak-anak kita bertambah pintar, melainkan juga mungkin karena negara lain menurun. Sebaliknya, kita bisa turun ketika kemampuan murid membaik hanya karena negara lain melesat lebih cepat.

Karena itu, yang lebih penting daripada bertengkar soal peringkat ialah melihat apa yang sungguh-sungguh mampu dilakukan anak-anak Indonesia. Peringkat memang gampang dijadikan judul berita. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada kegembiraan statistik. Yang kita perlukan ialah perubahan nyata pada kemampuan anak di ruang kelas.

Di situlah cermin PISA memantulkan wajah yang belum sepenuhnya menggembirakan. Dalam sains, baru 37 persen murid Indonesia mencapai setidaknya level 2. Dalam membaca 27 persen, sedangkan matematika hanya 17 persen. Artinya, mayoritas murid masih berada di bawah kompetensi minimum PISA.

Lebih ke atas lagi, keadaan makin sepi. Hampir tidak ada murid Indonesia yang mencapai level 5 atau 6 dalam matematika dan sains. Dalam membaca pun serupa.

Padahal, pada tingkat itulah kemampuan yang amat diperlukan pada zaman sekarang diuji, yaitu kemampuan memahami persoalan kompleks, membedakan fakta dan opini, mengevaluasi informasi, memilih strategi penyelesaian, serta menggunakan pengetahuan dalam situasi baru.

Orang sekarang menyebutnya HOTS, higher-order thinking skills. Istilah Inggris memang kadang membuat sesuatu terdengar lebih canggih. Namun, HOTS bukan sulap.

Anak yang belum kukuh memahami bacaan tidak mendadak menjadi pemikir kritis hanya karena disodori soal yang kalimatnya dua halaman. Murid yang belum memahami konsep matematika dasar juga tidak otomatis naik kelas menjadi pemecah masalah hanya lantaran soalnya dibuat semakin ruwet.

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar. Foto- dok MI/Ramdani
 

Berpikir tingkat tinggi membutuhkan tangga. Anak mesti memahami sebelum menganalisis, menguasai konsep sebelum mengevaluasi, dan memiliki pengetahuan sebelum menggunakannya untuk memecahkan masalah baru.

Karena itu, tantangan pendidikan kita sesungguhnya ganda. Kita mesti menarik sebanyak mungkin anak menuju kompetensi dasar, sekaligus mendorong mereka yang sudah sampai di sana untuk mendaki menuju kemampuan bernalar yang lebih tinggi.

Di sinilah hasil PISA 2025 semestinya dibawa pulang ke ruang kelas. Jangan berhenti menjadi bahan pidato, diskusi webinar, atau perdebatan di media sosial. Angka PISA harus diterjemahkan menjadi perbaikan cara anak belajar dan cara guru mengajar.

Pembelajaran mendalam bisa menjadi salah satu jalan. Bukan karena kita ingin sekolah berubah menjadi tempat kursus mengerjakan soal PISA, melainkan karena proses belajar memang harus bergerak dari sekadar menghafal menuju memahami, mengaplikasikan, bernalar, dan merefleksikan.

Tentu, jargon tidak akan mengubah pendidikan. Kita pernah mempunyai terlalu banyak istilah bagus yang nasibnya berakhir di spanduk seminar.

Pembelajaran mendalam hanya akan bermakna bila kompetensi guru diperkuat, asesmen diperbaiki, lingkungan belajar dibuat kondusif, teknologi digunakan secara tepat, dan anak diberi ruang untuk bertanya, mencoba, salah, memperbaiki kesalahan, lalu menemukan jawaban.

Pendidikan bukan pabrik jawaban benar. Pendidikan ialah tempat manusia belajar berpikir. Karena itu, PISA jangan diperlakukan sebagai piala. Ia lebih tepat disebut cermin. Kalau wajah di dalam cermin tampak kusut, jangan kacanya yang dimarahi. Apalagi dipecahkan. Bersihkan wajahnya.

Kabar perbaikan PISA 2025 patut menjaga optimisme bahwa pendidikan Indonesia dapat bergerak ke arah yang benar. Namun, perjalanan masih panjang. Ukuran keberhasilannya kelak bukan semata-mata Indonesia meloncat lima atau sepuluh peringkat.

Yang jauh lebih penting ialah semakin banyak anak mampu membaca dengan pemahaman, berhitung dengan nalar, memahami sains, memilah fakta dari omong kosong, serta memecahkan persoalan yang belum pernah mereka jumpai. Kalau itu terjadi, biarlah rangking mengikuti.

Kita mendidik anak bukan untuk memenangi PISA. Kita mendidik mereka agar tidak kalah menghadapi masa depan.

(Achmad Zulfikar Fazli)