Ilustrasi. Foto: Dok MI
Dolar AS Kembali Bersinar, Disokong Data Tenaga Kerja
Eko Nordiansyah • 2 July 2026 08:53
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada Rabu, 1 Juli 2026, didukung data ekonomi yang mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar juga mencermati sinyal beragam dari komentar Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum Bank Sentral Eropa (ECB) di Portugal.
Dikutip dari Investing, Kamis, 2 Juli 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,2 persen menjadi 101,39. Pada sesi sebelumnya, indeks tersebut membukukan kenaikan kuartalan keempat berturut-turut dengan penguatan 1,2 persen selama kuartal II.
Prospek suku bunga tetap menjadi perhatian
Arah kebijakan moneter The Fed masih menjadi fokus pasar di tengah rilis sejumlah data ketenagakerjaan AS.Laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS mencapai 45.849 pada Juni, turun 53 persen dibandingkan 97.006 PHK pada Mei. Angka tersebut menjadi jumlah PHK bulanan terendah sejak Desember 2025.
Sementara itu, ADP melaporkan sektor swasta AS menambah 98 ribu lapangan kerja pada Juni. Angka tersebut berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 118 ribu maupun realisasi Mei sebanyak 122 ribu.
Kedua data tersebut dirilis setelah laporan lowongan pekerjaan AS mencapai level tertinggi dalam dua tahun pada Mei. Pelaku pasar kini menantikan laporan nonfarm payrolls (NFP) Juni sebagai indikator utama kondisi pasar tenaga kerja AS.
Pada pertemuan bulan lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menegaskan fokus utamanya tetap pada pengendalian inflasi karena pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih dinilai kuat.
Di sisi lain, data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54 pada Mei dan berada di bawah proyeksi konsensus sebesar 53,8.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Risiko inflasi mulai mereda
Warsh dalam pidato publik pertamanya sejak rapat kebijakan bulan lalu kembali menolak memberikan panduan mengenai arah suku bunga. Ia hanya menyatakan FOMC siap menghadapi berbagai perkembangan ketika kembali menggelar pertemuan pada Juli.Namun, Warsh juga menegaskan risiko inflasi mulai menurun, seiring turunnya harga minyak setelah tercapainya perjanjian damai sementara antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran terhadap tekanan harga energi.
Pelaku pasar tetap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tahun ini masih terbuka, sebagaimana tercermin dalam CME FedWatch. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menopang penguatan dolar.
Euro melemah, yen masih tertekan
Di pasar mata uang utama lainnya, euro melemah 0,4 persen menjadi USD1,1380 setelah inflasi Zona Euro melambat lebih cepat dari perkiraan.Data menunjukkan inflasi konsumen (CPI) Zona Euro turun menjadi 2,8 persen pada Juni dari 3,2 persen pada Mei, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 3,0 persen. Inflasi inti juga tercatat lebih rendah dari ekspektasi.
Kondisi tersebut memperkuat peluang ECB melonggarkan kebijakan moneternya. Di sisi lain, perbedaan arah kebijakan antara ECB yang cenderung dovish dan The Fed yang masih hawkish semakin menekan nilai tukar euro terhadap dolar AS.
Presiden ECB Christine Lagarde kembali membela keputusan bank sentral menaikkan suku bunga pada bulan lalu.
"Kami melakukannya karena kami memiliki kondisi kebijakan moneter yang tepat untuk melakukannya," ujar Lagarde.
Sementara itu, yen Jepang bertahan di kisaran level terlemahnya terhadap dolar AS sejak 1986. Pasangan USD/JPY terakhir berada di level 162,52.
Yen masih berada di bawah tekanan meski survei Tankan Bank of Japan menunjukkan sentimen produsen besar membaik dan PMI manufaktur Jibun Bank tetap berada di zona ekspansi.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Investor kini mengalihkan perhatian pada laporan nonfarm payrolls AS serta perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz yang diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan mata uang global.