Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Makin Kinclong di Tengah Tekanan Dolar dan Risiko Geopolitik, Simak Prediksinya Hari Ini!
Husen Miftahudin • 26 January 2026 10:43
Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) kembali mencetak tonggak sejarah baru pada awal pekan ini, mempertegas posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Emas melonjak tajam sejak akhir pekan lalu, setelah pada sesi Amerika Utara Jumat, 23 Januari 2026 naik lebih dari satu persen dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa di area USD4.988 per troy ons.
Penguatan ini dipicu oleh tekanan kuat pada dolar AS yang muncul akibat rumor intervensi di pasar valuta asing, yang mendorong penguatan yen Jepang. Melemahnya dolar tersebut membuka ruang bagi emas untuk melesat, bahkan di tengah membaiknya selera risiko global.
Memasuki sesi Asia Senin, 26 Januari 2026, reli emas belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Harga kembali naik dan mencetak rekor tertinggi baru di sekitar USD5.045, didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik global masih menjadi tema dominan, mulai dari konflik Rusia-Ukraina yang belum menemukan titik terang, hingga isu intervensi militer di Venezuela dan wacana ambisi geopolitik AS terkait Greenland. Kondisi ini menjaga permintaan emas sebagai safe haven tetap tinggi, seiring investor berupaya melindungi nilai aset mereka dari risiko yang sulit diprediksi.
Menurut analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, struktur teknikal emas saat ini berada dalam fase yang sangat kuat. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish pada XAU/USD semakin menguat. Harga emas bergerak stabil di atas rata-rata pergerakan utama, menandakan tekanan beli masih mendominasi pasar.
"Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, potensi kelanjutan tren naik masih terbuka lebar. Dalam proyeksi pergerakan jangka pendek, jika tekanan bullish berlanjut, emas berpeluang melanjutkan reli menuju area USD5.150," tutur Andy dikutip dari analisis harian, Senin, 26 Januari 2026.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pergerakan yang terlalu cepat di dekat level psikologis berisiko memicu aksi ambil untung. Jika harga gagal mempertahankan momentumnya, potensi koreksi terdekat diperkirakan berada di sekitar level USD5.030.
| Baca juga: Tembus USD5.000/Ons, Harga Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Baru |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Menanti pengganti Powell
Dari sisi fundamental, perhatian pasar juga tertuju pada dinamika kebijakan Federal Reserve. Investor menantikan keputusan Presiden AS Donald Trump terkait penunjukan Ketua The Fed berikutnya, setelah Trump menyatakan proses wawancara para kandidat telah selesai.
"Jika sosok yang terpilih cenderung lebih dovish, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini berpotensi meningkat. Suku bunga yang lebih rendah akan menurunkan biaya peluang memegang emas, sehingga semakin mendukung kenaikan harga logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil tersebut," jelas Andy.
Data ekonomi AS sendiri menunjukkan sinyal yang beragam. Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan membaik pada Januari ke level tertinggi lima bulan, meski konsumen masih mengeluhkan tekanan harga dan kekhawatiran pasar tenaga kerja.
Sementara itu, data PMI dari S&P Global mengindikasikan perbaikan moderat aktivitas bisnis, namun pertumbuhan permintaan baru masih relatif lemah. Kombinasi data ini memperkuat pandangan ekonomi AS belum sepenuhnya solid, membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Dengan latar belakang teknikal yang kuat dan dukungan fundamental yang sarat ketidakpastian, Andy menilai bias harga emas masih cenderung positif.
"Selama tekanan terhadap dolar AS berlanjut dan risiko geopolitik belum mereda, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish dan berpotensi mencetak level-level tertinggi baru dalam waktu dekat," jelas dia.