Ilustrasi Pexels
Dampak Konflik Timur Tengah, Guru Besar Ingatkan Potensi Krisis Pupuk
Muhamad Marup • 2 April 2026 20:15
Jakarta: Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Subejo, mengatakan, perang di timur tengah menimbulkan dampak bagi sektor pangan terutama kelangkaan pasokan pupuk berbasis nitrogen untuk produksi pupuk kimia. Negara-negara Teluk menjadi produsen penting pupuk berbasis nitrogen.
"Jika serangan ini akan terjadi dalam waktu yang panjang dan kapal-kapal yang membawa bahan baku tersebut tidak masuk ke Indonesia, tentunya akan berisiko," ujar Subejo, melansir situs resmi UGM, Kamis, 2 April 2026.
Ia menambahkan, kebutuhan pupuk non-organik tidak bisa digantikan dengan organik. Subejo mengungkapkan, jika stok pupuk tersebut benar-benar berkurang hingga 50% akan berisiko untuk kedepannya.
"Mungkin untuk masa penanaman Juli atau Juni itu yang saya kira yang berisiko, kalau ini misalnya distribusi bahan bakunya tidak lancar," jelasnya.
Subejo mengungkapkan, tidak semua bahan pupuk berasal dari impor, tetapi terdapat juga pupuk-pupuk yang bisa diproduksi di dalam negeri. Menurutnya, kondisi perang saat ini menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas pupuk dalam negeri, terutama pupuk organik yang berasal dari bahan kotoran ternak, termasuk kompos dari limba-limbah organik, dapat dioptimalkan.
"Jadi di satu sisi, tetap ada risiko kekurangan pupuk, kimia, tapi kita berkesempatan untuk mengganti ke pupuk organik," katanya.

Ilustrasi Pexels
Ia menyarankan pemerintah harus mengedukasi masyarakat untuk tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan harus mulai bergeser ke pupuk organik. Selain itu, strategi lainnya adalah memberikan bantuan ke desa-desa mesin pengolah pupuk organik.
"Jika hal tidak disiapkan, nanti ketika misalnya betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps," ucapnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com