Investor Mesti Hati-hati, Emas Berpotensi Lanjut Melemah Pekan Ini

Ilustrasi. Foto: Unplash

Investor Mesti Hati-hati, Emas Berpotensi Lanjut Melemah Pekan Ini

Eko Nordiansyah • 15 May 2026 13:53

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan pekan ini. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai, pergerakan XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan tren bearish yang cukup kuat, sehingga peluang pelemahan harga dinilai masih terbuka dalam jangka menengah.

Secara teknikal, harga emas saat ini masih bergerak di bawah area Moving Average (MA) periode 21 dan 50. Kondisi tersebut menjadi salah satu sinyal tren penurunan masih mendominasi pergerakan pasar. Selama harga belum mampu kembali naik dan bertahan di atas area MA tersebut, tekanan bearish diperkirakan masih akan terus berlangsung.

"Dalam proyeksi pekan ini, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju level support terdekat di area 4.558. Jika tekanan jual semakin kuat, maka target penurunan berikutnya diperkirakan berada di level 4.481," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 15 Mei 2026.

Geraldo menjelaskan, peluang koreksi lebih dalam masih cukup besar karena momentum pelemahan belum menunjukkan tanda mereda. Hal ini juga diperkuat oleh indikator stochastic yang masih bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual.

"Meski area oversold biasanya dapat memicu rebound sementara, arah indikator yang masih menurun menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar untuk sementara waktu," ungkap dia.

Sentimen global masih memengaruhi harga emas

Selain faktor teknikal, tekanan terhadap harga emas juga datang dari sentimen fundamental global. Salah satu faktor utama yang membebani pergerakan emas adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih cukup dominan.

Ketika dolar AS bergerak menguat, ia menyebut, harga emas cenderung mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor global yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini membuat permintaan terhadap emas menurun dan mendorong harga bergerak lebih rendah.

(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)

Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor yang menekan daya tarik emas. Investor saat ini cenderung lebih memilih instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau yield tetap.

Pasar juga masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi tersebut muncul karena sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, masih menunjukkan kondisi yang cukup solid.

Jika The Fed belum memberikan sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat, maka dolar AS berpotensi tetap kuat dan menjadi tekanan tambahan bagi harga emas. Harapan pasar terhadap kebijakan moneter yang masih ketat membuat investor lebih berhati-hati untuk masuk ke aset safe haven seperti emas.

Investor beralih ke pasar saham

Di sisi lain, membaiknya sentimen pasar global turut memengaruhi pergerakan logam mulia tersebut. Ketika pasar saham mulai stabil dan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat, investor cenderung mengurangi kepemilikan aset aman dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih berisiko namun memiliki potensi imbal hasil lebih tinggi.

"Faktor lain yang juga memperbesar tekanan jual adalah aksi profit taking setelah kenaikan emas sebelumnya gagal mempertahankan momentum bullish. Sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan mereka, sehingga menambah tekanan terhadap harga emas dalam jangka pendek," ujar dia.

Secara keseluruhan, kombinasi antara tekanan teknikal dan sentimen fundamental menunjukkan harga emas masih berpotensi bergerak melemah sepanjang pekan ini. Selama harga belum mampu keluar dari tren bearish dan bertahan di atas area resistance penting, peluang penurunan menuju level 4.558 hingga 4.481 masih cukup terbuka.

"Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan Federal Reserve, serta dinamika geopolitik yang sewaktu-waktu dapat memicu perubahan sentimen pasar dan memengaruhi pergerakan harga emas," ungkap dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)